Mimpi pertumbuhan ekonomi 8% terancam layu sebelum berkembang jika Indonesia hanya puas menjadi pasar, sementara mesin inovasi global beralih ke tangan pencipta nilai.
Tahun 2025 menjadi momen penting bagi pertumbuhan ekonomi. Nobel Ekonomi secara resmi diberikan kepada Joel Mokyr, Philippe Aghion, dan Peter Howitt.
Mereka berkontribusi besar menjelaskan bagaimana inovasi dan kemajuan teknologi mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Mokyr menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi hari ini tidak semata karena akumulasi modal atau tenaga kerja. Dua variabel itu penting, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan mengapa beberapa negara bergerak cepat, sementara yang lain tertinggal.
Menurutnya, faktor utama ekonomi sebuah bangsa melaju adalah pengetahuan yang bermanfaat, kompetensi teknis, dan institusi yang mendukung pengembangan teknologi.
Sementara itu, Aghion dan Howitt menghidupkan kembali gagasan klasik dari Joseph Schumpeter, yaitu konsep creative destruction (penghancuran kreatif).
Ide dasarnya tampak sederhana, tetapi implikasinya sangat dalam. Setiap inovasi yang baru lahir secara perlahan akan menggusur teknologi dan praktik lama.
“Penghancuran” terjadi karena apa yang sebelumnya dianggap mapan tiba-tiba kehilangan relevansinya. Teknologi baru akan mengeliminasi cara produksi atau model bisnis yang konvensional.
Namun terobosan itu terbilang kreatif dan produktif sehingga mampu mengungkit mesin pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dalil ketiga tokoh tersebut sangat menarik apabila ditilik dari perspektif historis. Di banyak sejarah ekonomi global, negara maju selalu memiliki satu kesamaan. Mereka tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi membangunnya.
Inggris memiliki pusat riset mesin uap abad ke-18 yang menjadikannya pionir revolusi industri pertama. Amerika melahirkan Silicon Valley pada 1970-an yang menjadi titik temu investasi pemerintah, riset universitas dan kucuran dana modal ventura.
Sementara Cina mendirikan zona eksperimental digital pada awal 2000-an yang menjadi dasar lahirnya industri teknologi terbesar kedua di dunia.
Lantas, apa pelajaran pentingnya bagi Indonesia? Nobel Ekonomi 2025 mengingatkan kita bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang tidak pernah datang dengan sendirinya.
Kita sedang memasuki fase di mana ekonomi digital bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi fondasi pertumbuhan berkelanjutan.
Kabar baiknya, perkembangan digitalisasi di tingkat global membuka peluang besar untuk meraup pundi-pundi dari ekspor jasa digital.
World Trade Organization mencatat nilai ekspor jasa digital dunia pada 2024 telah menembus US$ 4,64 triliun. India bertransformasi menjadi kekuatan utama layanan teknologi informasi global dengan ekspor jasa digital US$ 269 miliar.
Sementara Irlandia berhasil memposisikan diri sebagai international hub untuk ekspor perangkat lunak, SaaS dan layanan pendukung teknologi yang bernilai sekitar US$ 417 miliar.
Dengan pasar domestik yang besar sebagai testing ground, Indonesia bisa naik kelas dari pengguna teknologi menjadi penyedia layanan digital global. Lewat dukungan regulasi dan ekosistem inovasi yang terhubung, Indonesia berpotensi menjadi eksportir layanan digital bernilai tinggi.
Talenta digital
Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan nyata di depan mata. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut kebutuhan talenta digital nasional diperkirakan mencapai 12 juta orang pada 2030, namun suplai diperkirakan hanya tersedia sekitar 9 juta orang.
Oleh karena itu, kehadiran pusat inovasi digital menjadi mendesak. Kita tidak bisa berharap talenta digital lahir hanya dari ruang kelas yang terpisah dari kebutuhan industri.
Pengalaman banyak negara menunjukkan, ketika pusat inovasi digital terhubung dengan agenda nasional, ia bukan hanya mencetak lebih banyak talenta digital, tetapi juga mempercepat lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan pasar global.
Selain itu, defisit jutaan talenta ini menjadi alarm bagi kebijakan dan strategi ekonomi digital. Jika tidak direspons dengan tepat, Indonesia berisiko menjadi konsumen teknologi global, tanpa memiliki kapasitas menciptakan inovasi dan menguasai rantai nilai digitalnya sendiri.
Dalam banyak kasus, negara yang tidak mampu menghasilkan inovasi sendiri akan selalu menjadi price taker dalam perekonomian global. Ia membeli teknologi dengan harga mahal, tetapi hanya menikmati sebagian kecil nilai tambahnya.
Sementara negara yang mampu berinovasi justru menguasai rantai nilai, menentukan standar, bahkan mengendalikan pasar.
Inilah mengapa inovasi digital menjadi begitu strategis. Teknologi digital memiliki sifat yang berbeda dari sektor ekonomi tradisional. Skalanya bisa diperbesar hampir tanpa biaya tambahan, dan nilai tambahnya tidak terbatas pada batas geografis.
Negara yang mampu menciptakan teknologi semacam ini akan tumbuh lebih cepat, produktivitasnya meningkat, dan struktur ekonominya menjadi jauh lebih tangguh menghadapi gejolak global.
Oleh karena itu, bila Indonesia ingin benar-benar berlari, inovasi digital tidak boleh menjadi agenda pinggiran. Ia harus menjadi poros pembangunan, sebagaimana mesin uap bagi Inggris, Silicon Valley bagi Amerika, atau zona eksperiental digital bagi China.
Negara-negara ini bergerak maju bukan karena mereka paling kaya sumber daya alamnya, tetapi karena mereka paling serius membangun sumber daya inovasinya.
Indonesia hari ini menghadapi dua pilihan. Kita bisa memilih tetap nyaman sebagai pasar besar atau mengambil jalan yang lebih menantang sebagai pencipta nilai.
Pilihan kedua tentu lebih sulit. Ia menuntut perubahan cara berpikir, cara bekerja dan cara merumuskan kebijakan. Namun di situlah letak masa depan pertumbuhan jangka panjang.
Pada akhirnya, bapak ilmu manajemen modern, Peter Drucker pernah berkata,“Kita tidak mungkin dapat menyelesaikan masalah hari ini dengan solusi masa lalu.”
Visi pertumbuhan ekonomi 8% dan Indonesia Emas 2045 di masa depan tidak mungkin dicapai dengan pendekatan atau cara kerja seperti sekarang.
Kita tak bisa lagi hanya mengandalkan komoditas, tenaga kerja murah, atau pasar domestik yang besar. Keunggulan itu mungkin relevan dua dekade lalu.
Namun, di dunia yang bergerak cepat seperti sekarang, keunggulan tersebut tidak cukup. Talenta digital, inovasi, dan teknologi harus menjadi fokus pengembangan di masa depan demi membangun ekonomi yang tangguh dan mandiri dalam jangka panjang.
Artikel ini telah dimuat di KONTAN 26 Desember 2025

