Membangun jalan tol kerap dipersepsikan sebagai kebijakan pro-pertumbuhan. Asumsinya, jika jarak menjadi lebih pendek dan waktu tempuh berkurang, maka terjadi efisiensi biaya sehingga ekonomi akan tumbuh.
Namun para ekonom paham, jalan tol tidak otomatis meningkatkan aktivitas ekonomi. Ia hanya membuka pintu kesempatan. Yang menentukan hasil akhirnya adalah apakah aktivitas produktif benar-benar berpindah ke sana.
Ekonomi digital bekerja dengan logika yang sama. Dalam beberapa tahun terakhir, nilai transaksi e-commerce meningkat tajam, jumlah pengguna platform digital bertambah jutaan setiap tahun, dan kosakata AI menjadi bagian dari percakapan publik sehari-hari. Dari atas permukaan, semuanya tampak bergerak ke arah yang benar.
Laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company seakan mengonfirmasi fenomena ini. Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai hampir US$100 miliar dalam Gross Merchandise Value (GMV) pada 2025. Angka ini tumbuh 14% dibanding 2024, sekaligus mempertahankan posisi Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Walau demikian, ekonomi tidak pernah berhenti hanya pada angka pertumbuhan. Yang lebih penting adalah kualitasnya. Misalnya, sektor apa yang bertumbuh, siapa yang memperoleh manfaat, dan bagaimana keberlanjutan pertumbuhan tersebut.
Karena itu, pertumbuhan ekonomi digital tidak serta-merta mengerek sektor riil secara signifikan. Grafik boleh naik, tetapi cerita di baliknya tidak selalu sesederhana itu.
Peraih Nobel Ekonomi tahun 1987, Robert Solow mengatakan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang bukanlah akumulasi modal. Ketika investasi terus ditambah tanpa peningkatan efisiensi, tambahan output akan semakin kecil.
Menurut Solow, faktor utama pengungkit pertumbuhan adalah total factor productivity, yaitu kemampuan menghasilkan output yang lebih besar dari kombinasi tenaga kerja dan modal yang sama.
Di titik inilah inovasi digital menemukan relevansinya. Dalam kerangka teori ekonomi, digitalisasi menurunkan transaction costs, yakni biaya untuk mencari informasi, berkoordinasi, dan mengeksekusi transaksi.
Ketika biaya transaksi turun, dua hal terjadi sekaligus. Pertama, aktivitas ekonomi menjadi lebih murah dan cepat. Kedua, aktivitas yang sebelumnya inefisien menjadi ekonomis untuk dilakukan.
Ambil contoh sederhana di sektor UMKM. Sebelum adanya platform digital, biaya untuk memasarkan produk ke luar daerah sangat tinggi. Namun dengan bantuan platform digital, biaya tersebut kini turun drastis.
Hasilnya bukan hanya peningkatan penjualan, tetapi juga perluasan skala usaha, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas.
Ilusi efisiensi
Namun, Solow juga pernah menyindir bahwa komputer ada di mana-mana kecuali di statistik produktivitas. Pernyataan ini lahir dari kegagalan awal teknologi meningkatkan produktivitas di Amerika Serikat pada 1970–1980-an.
Alasannya, teknologi baru membutuhkan penyesuaian organisasi, perubahan proses bisnis, dan peningkatan kualitas SDM. Produktivitas baru melonjak ketika ketiga elemen ini berjalan bersamaan.
Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia. Banyak inisiatif digital berhenti pada lapisan teknologi. Aplikasi dibuat, sistem dibangun, tetapi prosedur lama tetap dipertahankan. Digitalisasi tanpa reformasi proses adalah ilusi efisiensi.
Karena itu, terdapat tiga langkah yang harus diambil agar inovasi digital benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertama, menggeser fokus dari konsumsi digital ke produksi digital. Ekonomi digital Indonesia tumbuh pesat, tetapi mayoritas bertumpu pada sektor informal. Semua itu penting, tetapi dampaknya terhadap produktivitas nasional relatif terbatas.
Mengapa? Karena ia lebih banyak memindahkan transaksi dari satu kanal ke kanal lain, bukan mengubah fungsi produksi.
Bandingkan dengan digitalisasi di sektor manufaktur atau logistik. Ketika perusahaan menggunakan sensor dan data real-time untuk mengurangi downtime atau rantai pasok dipangkas lewat integrasi sistem, maka output meningkat tanpa harus menambah input secara proporsional. Di situlah produktivitas lahir.
Kedua, memperlakukan data selayaknya the new oil. Jika jalan tol adalah infrastruktur fisik, maka data adalah infrastruktur ekonomi abad ke-21. Ia menentukan seberapa cepat keputusan dibuat, seberapa akurat kebijakan dirumuskan, dan seberapa efisien sumber daya dialokasikan.
OECD bahkan menyamakan peran data hari ini dengan peran riset dan pengembangan dalam teori pertumbuhan klasik.
Implikasinya sederhana, tapi sering diabaikan. Kebijakan data bukan isu teknis, melainkan soal produktivitas. Tanpa interoperabilitas data antarinstansi, tanpa standar yang jelas, dan tanpa kepastian hukum, inovasi berbasis data akan berjalan tertatih.
Startup tidak bisa berkembang, perusahaan ragu berinvestasi, dan teknologi canggih seperti AI hanya menjadi wacana.
Ketiga, pengembangan SDM digital. Kita sering membicarakan talenta digital, tetapi diskusinya kerap berhenti pada berapa banyak orang bisa coding, bukan berapa banyak yang mampu mengeksploitasinya untuk meningkatkan produktivitas.
Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa kesenjangan terbesar bukan terletak pada ketersediaan talenta, melainkan pada absennya ekosistem yang memungkinkan eksperimen dan pembelajaran berulang.
Pusat inovasi
Di sinilah kehadiran pusat inovasi menjadi krusial. Pusat inovasi merupakan institusi ekonomi yang menjembatani pengetahuan dan penerapan. Ia menyediakan ruang di mana teknologi diuji pada persoalan produktivitas yang konkret.
Dengan mekanisme ini, pembelajaran tidak berhenti pada keterampilan individual, melainkan berkembang menjadi perubahan organisasi.
Pusat inovasi juga mempercepat difusi produktivitas. Banyak inovasi berhasil di tahap awal, dalam skala kecil atau proyek percontohan, tetapi berhenti sebelum memberi dampak luas. Masalahnya bukan pada ide atau teknologi, melainkan pada kemampuan mereplikasi dan mengintegrasikannya ke dalam praktik ekonomi sehari-hari.
Pusat inovasi menjembatani jurang ini. Ia memungkinkan inovasi diuji, disempurnakan, lalu distandarkan, sehingga dapat diadopsi oleh lebih banyak pelaku dengan biaya dan risiko yang lebih rendah.
Di sinilah pentingnya peran negara. Regulator hadir sebagai orkestrator ekosistem dengan mempertemukan talenta, industri, universitas, dan pembuat kebijakan dalam satu ruang eksperimentasi bersama.
Tanpa orkestrasi semacam ini, inovasi cenderung terfragmentasi. Setiap aktor bergerak di jalurnya masing-masing, dan hasilnya sulit berskala besar. Pusat inovasi mengubah logika itu. Ia menciptakan mekanisme pembelajaran kolektif dan mempercepat penyebaran praktik terbaik.
Pada akhirnya, kita perlu mengingat Kembali pernyataan Paul Krugman, pemenang nobel ekonomi tahun 2008, “Productivity isn’t everything, but in the long run it is almost everything.”
Dalam jangka panjang, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan ditentukan bukan oleh seberapa cepat kita mengadopsi teknologi, tetapi oleh seberapa serius kita menggunakannya untuk bekerja lebih efisien dan lebih produktif, serta menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.
Artikel ini telah dimuat di INVESTOR DAILY 12 Februari 2026

