MENANTANG HEGEMONI BANK BESAR

Jul 14, 2020 | Articles on Media

Tahun 2017 menjadi tahun keemasan bagi kelompok bank besar. Industri perbankan, utamanya bank BUKU IV mencatat performa moncer di tengah isu stagnasi pertumbuhan ekonomi.

Mengutip Statistik Perbankan Indonesia, laba bank BUKU IV mencapai Rp86,58 triliun, tumbuh 26% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai tersebut mencakup 66% dari keseluruhan laba bank umum sebesar Rp131,14 triliun.

Apiknya kinerja bank BUKU IV tersebut tentu tidak terlepas dari akselerasi penyaluran kredit. Kredit bank BUKU IV tumbuh 19,67% atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan kredit yang mencapai 8,24%.

Ironisnya, kredit kelompok bank lainnya justru melambat, bahkan menurun tajam. OJK merilis kredit bank BUKU III tumbuh 1%, sementara itu kredit bank BUKU II dan BUKU I anjlok -7% dan -36%.

Pembangunan proyek infrastruktur yang masif disinyalir menjadi salah satu poin penggerak kinerja penyaluran kredit bank BUKU IV. Imbasnya, kebutuhan modal kerja untuk konstruksi proyek melambung dan hanya mampu dibiayai oleh bank-bank berkantong jumbo.

Sebagai gambaran, kredit konstruksi tumbuh sebesar 20,57% dan menjadi salah satu pendorong terbesar pertumbuhan kredit tahun 2017.

Di samping itu, faktor efisiensi kegiatan operasional turut mendongkrak pertumbuhan laba bank BUKU IV. Kondisi ini tercermin dari rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang semakin melandai. Rasio BOPO per Desember 2017 sebesar 70%, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 75%.

Ruang penurunan biaya operasional semakin terbuka sejalan dengan perkembangan teknologi. Jumlah kebutuhan tenaga kerja makin ramping seiring kehadiran Cash Deposit Machine. Selain itu, maraknya penggunaan internet banking dan mobile banking turut menyusutkan jumlah investasi mesin ATM baru setiap tahunnya.

BACA JUGA: MENYOAL DAYA SAING BANK KECIL

Kabar angin segar berhembus dari Bank Indonesia pasca dirilisnya kebijakan Gerbang Pembayaran Nasional. Dengan hadirnya beleid ini, perbankan dapat saling bekerja sama untuk membiayai pengadaan infrastruktur sistem pembayaran, seperti mesin ATM dan EDC.

Dengan prinsip interkoneksi dan interoperabilitas, biaya operasional perbankan dapat lebih efisien.

Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan bunga kredit berpotensi terakselerasi. Dibandingkan negara tetangga, penetrasi kredit perbankan Indonesia masih belum cukup dalam.

Bank Dunia mencatat rasio kredit bank terhadap PDB Indonesia tahun 2016 sebesar 39%. Angka tersebut masih jauh lebih rendah ketimbang negara tetangga, Malaysia dan Thailand yang mencapai 124% dan 147%. Tak ayal celah pasar yang belum terlayani jasa keuangan di Indonesia masih sangat prospektif.

Pertumbuhan pendapatan operasional bank diyakini juga akan diperkuat oleh kenaikan fee based income. Sejalan dengan meningkatnya aktivitas literasi keuangan, kesadaran masyarakat akan pentingnya investasi pada produk keuangan juga ikut terdorong.

Tak pelak perbankan besar berlomba-lomba memanfaatkan peluang ini dengan memperkuat jasa layanan wealth banking. Produk asuransi, reksadana, obligasi dan lain-lain kerap ditawarkan untuk menambah pundi-pundi pendapatan komisi bank.

Di atas kertas, bank BUKU IV tidak akan mengalami kesulitan untuk menangkap peluang-peluang tersebut. Bermodalkan aset besar, penambahan investasi di bidang teknologi sistem pembayaran dan perluasan cakupan layanan nasabah merupakan hal yang sangat mungkin dilakukan.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan dominasi bank-bank BUKU IV masih akan berlanjut seiring dengan rencana ekspansi anorganik.

Rivalitas fintech

Meskipun demikian, hegemoni bank besar nampaknya akan mendapat tantangan dari usaha rintisan fintech dalamjangkamenengah panjang.

Dalam laporan bertajuk Indonesia Banking Survey 2018, PwC menyebut sebanyak 41% responden dari bank besar menilai fintech bakal menjadi ancaman signifikan dalam lima tahun ke depan. Hasil survei ini seakan mengonfirmasi kajian McKinsey yang memprediksi bisnis ritel bank akan tergerus oleh fintech pada tahun 2025.

BACA JUGA: MEMBACA ARAH UTANG INDONESIA 2018

Di tingkat global, survei PwC menunjukkan efek disrupsi oleh fintech akan berdampak pada personal loan (56%), tabungan (49%), asuransi (38%) dan wealth management (38%).

Jika tidak berbenah diri sejak dini, bisa jadi pangsa pendapatan bunga kredit dan komisi perbankan akan tergerus seiring dengan kehadiran pelaku fintech baru yang semakin pesat.

Secara konsepsi, layanan jasa bank besar tidak dapat ditinggalkan sepenuhnya.  Seluruh transaksi fintech, terutama di bidang sistem pembayaran dilakukan melalui bank domestik.

Namun jika kondisi ini dibiarkan terus berlangsung, peran perbankan tidak ubahnya sebagai transactional banking. Fungsi intermediasi bank sebagai penghimpun dan penyalur dana akan terkikis sedikit demi sedikit jika bank tidak segera beradaptasi.

Praktis perbankan pada titik ini dihadapkan pada beberapa opsi jalan keluar. Pertama, kerja sama dengan pelaku fintech melalui skema linkage program sebagai solusi termudah. Perbankan bertindak sebagai penyedia dana, sementara fintech sebagai penyalur dana.

Kolaborasi Bank Sinarmas dengan pelaku fintech, Modalku menjadi salah satu contohnya. Pada tahun 2016 kedua perusahaan telah meneken kerja sama untuk pemberian pembiayaan peer to peer (P2P) bagi pelaku usaha UMKM.

Skema linkage program lazimnya dilakukan dengan dua alternatif pola, yaitu channeling dan executing. Pola channeling merupakan pinjaman yang diberikan bank kepada nasabah melalui pelaku fintech yang bertindak sebagai agen dimana agen tidak memiliki kewenangan memutus kredit.

Di lain pihak, pada pola executing pelaku fintech tercatat sebagai debitur kredit perbankan yang selanjutnya akan meneruskan kembali kredit tersebut kepada nasabah.

BACA JUGA: KARTU KREDIT DI TUBUH BIROKRASI. MENGAPA TIDAK?

Kedua, bertransformasi menjadi Digital Banking atau Layanan Perbankan Digital (LPD) layaknya proses bisnis fintech saat ini.

OJK mendefinisikan LPD sebagai layanan perbankan elektronik yang mengoptimalkan pemanfaatan data nasabah dalam rangka melayani transaksi keuangan nasabah secara nyaman, cepat dan mudah sesuai dengan kebutuhan nasabah dengan pengamanan yang baik dan dapat dilakukan secara mandiri oleh nasabah.

Ke depan, nasabah akan semakin mudah membuka rekening simpanan dan pinjaman, serta melalukan pengelolaan keuangan hanya bermodal gawai cerdas di genggaman tangan.

Studi KPMG menemukan bahwa selain menginginkan kepraktisan bertransaksi lewat internet, lebih dari separuh nasabah perbankan dunia ingin menggabungkan interaksi sosial dan sentuhan manusiawi dalam proses perbankan mereka.

Jika skenario ini berjalan lancar, bisa jadi era kedigdayaan bank besar masih akan terus berlanjut dalam jangka panjang.

Artikel ini telah dimuat di Harian INVESTOR DAILY 20 April 2018

Remon Samora

Remon Samora

I am a digital economy enthusiast, especially financial technology. Writing article for media is my side activity besides working as central bankers. I believe everyone must be 1% Better every single day in order to become the best version of ourself.

Social Media

Remon Samora

@remon.samora