MENGUKUR SEPAK TERJANG SUPER-FINTECH

Jul 14, 2020 | Articles on Media

Apabila tidak ada aral melintang, tanggal 21 Februari 2019 akan menjadi tonggak lahirnya platform financial technology (fintech) super berlabel Link Aja.

Predikat super nampaknya pantas disempatkan pada pemain fintech satu ini jika menelisik cikal bakal kemunculannya. Dari sisi model bisnis, Link Aja akan menggabungkan seluruh uang elektronik berbasis server milik BUMN dengan fundamen teknologi Quick Response (QR) Code.

Selain itu, PT Fintek Karya Nusantara selaku pengelola platform merepresentasikan buah sinergitas enam perusahaan BUMN, yakni BRI, Mandiri, BNI, BTN, Telkomsel dan Pertamina.

Mengutip pemberitaan di media, beberapa BUMN lainnya, seperti PT Danareksa, PT Jiwasraya, PT Jasa Marga Tbk., dan PT Kereta Api Indonesia digadang-gadang ikut masuk dalam usaha patungan ini. Andaikan skenario ini terealisasi, Link Aja kemungkinan besar bakal menjadi pemain raksasa uang elektronik dalam waktu singkat.

Secara historis, kolaborasi perbankan BUMN alias Himbara (Himpunan Bank-bank Milik Negara) di bidang sistem pembayaran bukanlah barang baru. ATM Merah Putih atau yang lebih dikenal ATM Link merupakan contoh nyata bagaimana kerja sama di bidang pembayaran tunai berlangsung.

Didasari semangat interoperabililtas, nasabah bank Himbara dimanjakan dengan fasilitas tarik tunai secara gratis di semua mesin ATM milik bank Himbara. Melihat tren yang sedang berkembang ke arah nontunai, tidaklah berlebihan jika mengklaim Link Aja merupakan evolusi lebih lanjut dari ATM Merah Putih dengan cakupan yang lebih luas.

BACA JUGA: MENGUKUR PASAR FINTECH ASEAN

Dari perspektif makro ekonomi, ihwal kehadiran Link Aja tentu tidak bisa dipisahkan dari besarnya prospek pundi-pundi industri uang elektronik di masa depan. Hasil riset DBS Group memperkirakan dana mengendap di uang elektronik diproyeksi mencapai Rp3.000 triliun pada tahun 2030 dengan potensi fee based income sebesar Rp47 triliun.

Setali tiga uang, dalam laporan riset berjudul “Disruption Decode, Indonesia Banks: Fintech Unicorns Vs Bank Giants”, Morgan Stanley memprediksi penetrasi uang elektronik di Indonesia bakal meningkat dari saat ini sebesar 2% menjadi 24%  pada tahun 2027.

Statistik sistem pembayaran Bank Indonesia menunjukkan volume transaksi uang elektronik tahun 2018 mencapai Rp41,19 triliun atau tumbuh menjadi lebih dari tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Sementara dari kacamata mikro, eksistensi Link Aja tentu akan semakin meramaikan perebutan pangsa pasar industri uang elektronik. Bank Indonesia mencatat jumlah penyelenggara uang elektronik saat ini sebanyak 35 perusahaan dan 29 Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran telah menerima izin layanan QR Code.

Beberapa penelitian menempatkan Go-Pay dan Ovo sebagai penguasa industri uang elektronik  dengan market share terbesar. Survei DailySocial dalam Fintech Report 2018 menyebutkan Go-Pay menduduki peringkat teratas dimana 79% responden menggunakan uang elektronik besutan PT Dompet Anak Bangsa.

Sementara Ovo (58%) dan Tcash (55%) menempati peringkat kedua dan ketiga. Segendang sepenarian, kajian FT Confidential Research Mobile Payment menyatakan jumlah pengguna Go-Pay mencapai hampir tiga perempat dari total pengguna uang elektronik.

BACA JUGA: MENGAKSELERASI PENETRASI FINTECH PEMBAYARAN

Sejumlah pihak meyakini Link Aja mampu menjadi penantang utama Go-Pay dan Ovo selaku incumbent. Mencermati berbagai kelebihan yang ditawarkan, tak heran jika ‘ancaman’ Link Aja dinilai bukanlah gertak sambal belaka dan tidak bisa dianggap remeh.

Bermodal basis nasabah bank yang masif, serta didukung jaringan pelayanan publik yang luas, kehadiran Link Aja dipercaya dapat menjadi aplikasi penyedia segala jenis pembayaran atau payment of things. Pembayaran transaksi pembelian barang di merchant, pulsa, listrik, BBM dan sebagainya, cukup dioperasikan dari satu aplikasi. 

Dalam konteks ekonomi digital, fenomena ini lazimnya dikenal dengan jargon The winner takes all. Slogan ini acapkali digunakan untuk menggambarkan upaya menciptakan hambatan konsumen agar tidak berpindah ke aplikasi kompetitor (barriers to exit).

Semakin banyak jenis layanan dan keuntungan yang bisa diperoleh konsumen dari sebuah aplikasi, semakin tinggi biaya yang ditanggung konsumen untuk berpindah ke platform lainnya.

Kelemahan

Di atas kertas, Link Aja memang terbilang lebih unggul. Namun situasi tersebut belum bisa divalidasi sepenuhnya mengingat model bisnis semacam ini belum memiliki track record sukses di tingkat global.

Apalagi hegemonitas Go-Pay dan Ovo seperti yang dijelaskan sebelumnya telah menegaskan kelambanan korporasi besar untuk beradaptasi dengan perubahan zaman yang berlangsung cepat.

BACA JUGA: TITIK AWAL SUPERIORITAS TEKFIN

Harus diakui strategi BUMN untuk membentuk fintech pembayaran di luar perbankan memberikan ruang lebih longgar bagi Link Aja untuk bergerak lincah layaknya fintech non bank. Jika masih di bawah perbankan, praktis kiprah Link Aja akan terbelenggu oleh ketentuan perbankan yang lebih ketat.

Namun lagi-lagi, keunggulan tersebut tidak akan berdampak signifikan apabila manajemen Link Aja masih dikelola dengan menggunakan pola pikir bankir.

Misalnya soal target perolehan laba. Menjadi topik diskursus menarik, apakah Link Aja rela mengorbankan laba jangka pendek menengah demi menggenjot aktivitas akuisisi pelanggan.

Sudah merupakan rahasia umum bahwa praktik ‘bakar uang’ atau pemberian subsidi harga dalam skala massal menjadi senjata pamungkas untuk mengakuisisi pelanggan baru secara cepat.

Apabila praktik ini dilakukan, persoalan selanjutnya yang muncul ialah apakah pemegang saham rela berbagi kepemilikan modal tatkala dihadapkan pada opsi pendanaan (fundraising) oleh pihak eksternal.

Berangkat dari pengalaman usaha rintisan (startup) pada umumnya, dana internal biasanya tidak akan cukup untuk membiayai seluruh beban subsidi. Karena itu, perubahan paradigma ala startup di tubuh Link Aja menjadi sangat relevan demi menjadi game changer industri uang elektronik Tanah Air.

Artikel ini telah dimuat di Harian BISNIS INDONESIA 14 Februari 2019

Remon Samora

Remon Samora

I am a digital economy enthusiast, especially financial technology. Writing article for media is my side activity besides working as central bankers. I believe everyone must be 1% Better every single day in order to become the best version of ourself.

Social Media

Remon Samora

@remon.samora