Nov 7, 2025 | Articles on Media
Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 ibarat pelayaran panjang menuju samudra baru. Kita berlayar dengan arah, kecepatan, dan tujuan. Namun hal yang paling menentukan bukan seberapa cepat kapal itu berjalan, melainkan ke mana ia mengarah.
Karena tanpa arah jelas, samudra yang luas hanya membuat kapal berputar di tempat. Selama kita punya kompas yang tepat, maka arah itu akan tetap jelas.
Dalam dua dekade terakhir, kapal ekonomi Indonesia telah berhasil menempuh lautan globalisasi. Konsumsi rumah tangga, ekspor komoditas, dan pembangunan infrastruktur menjadi mesin penggerak utamanya. Kapal itu sukses berlayar dengan yang baik walau badai global datang silih berganti.
Namun, arah angin kini telah bergeser. Harga komoditas tak lagi stabil, ruang fiskal semakin terbatas, dan produktivitas nasional belum optimal.
Dunia yang kita hadapi hari ini tidak lagi sama dengan dunia yang kita kenal dua dekade lalu. Teknologi digital mengubah lanskap bisnis dan cara manusia bekerja. Akal imitasi, internet of things, dan big data menjadi bahan bakar baru yang menentukan kecepatan ekonomi.
Sementara itu, ketergantungan pada komoditas tidak lagi menjanjikan ketahanan jangka panjang di tengah perubahan iklim global.
Di titik ini, kita dihadapkan pada pertanyaan penting: apakah kompas lama masih cukup akurat untuk menunjukkan arah ke masa depan?
Jawabannya mungkin tidak. Dunia kini tidak bergerak secara linier. Ia berubah secara eksponensial. Kompas lama yang hanya mengandalkan konsumsi dan komoditas tidak lagi mampu membaca medan yang baru. Untuk itu, kita perlu kompas baru bernama ekonomi digital yang mampu merespons perubahan arah angin.
Di masa lalu, nilai ekonomi diciptakan oleh sumber daya fisik. Kini, nilainya muncul dari inovasi dan jaringan. Produk domestik bruto bukan lagi ditentukan oleh berapa luas lahan yang diolah, tapi oleh seberapa cepat data diproses menjadi keputusan.
Ekonomi digital membuat produktivitas tidak lagi bergantung pada jarak dan waktu. Ia memberi ruang bagi semua orang untuk ikut berperan, bahkan dari pelosok yang jauh dari pusat kota.
Transformasi ini sudah tampak di depan mata. Bank Indonesia, misalnya, menavigasi sistem pembayaran digital sebagai fondasi kepercayaan. QRIS bukan sekadar inovasi teknis, melainkan wujud nyata dari visi mendigitalkan Indonesia. Ia tak hanya memudahkan, tapi juga menumbuhkan inklusi.
Setali tiga uang Pemerintah Daerah juga menerapkan sistem pembayaran digital untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas keuangan publik. Di sisi lain, UMKM yang dulu terjebak dalam skala kecil kini bisa menjual produk ke pasar nasional bahkan internasional lewat platform daring.
Ekonomi digital memberi kita kesempatan untuk menulis ulang peta pembangunan. Ia memungkinkan pertumbuhan tanpa harus merusak lingkungan, membuka lapangan kerja tanpa harus menambah beban fiskal, dan memperkuat inklusi tanpa harus menunggu redistribusi.
Nilai ekonomi digital Indonesia mencapai USD90 miliar dan diproyeksikan melonjak hingga USD360 miliar pada 2030.
Mendigitalkan Indonesia bukan sekadar tentang memperluas jaringan 5G atau ledakan jumlah startup. Keduanya penting, tapi esensinya lebih dalam dari itu. Ini tentang bagaimana teknologi menjadi arah baru pembangunan. Tujuan akhirnya adalah menjadi bangsa yang high tech, high touch dan right tech.
High tech berarti kita berani menatap masa depan dengan teknologi mutakhir untuk memacu produktivitas. High touch menempatkan manusia di pusat perubahan.
Sementara right tech mengingatkan bahwa teknologi yang tepat tidak selalu yang paling mahal, tapi justru yang sederhana dan dimengerti oleh rakyat. Sebab itu, digitalisasi adalah tentang seberapa besar manfaat sosial yang bisa kita hasilkan dari teknologi.
Namun kompas tidak pernah bekerja sendiri. Ia memberi arah, tapi sang nahkoda yang menavigasi kapal. Pada titik inilah sinergi kebijakan publik harus menjadi kapten kapal.
Pemerintah perlu memastikan infrastruktur digital menjangkau hingga pelosok, otoritas moneter dan keuangan harus menyeimbangkan inovasi dengan stabilitas, serta dunia usaha perlu menanam investasi bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada manusianya.
Tantangan
Setiap revolusi teknologi selalu membawa paradoks. Di satu sisi, ia membuka peluang baru dan di saat bersamaan ia menciptakan ketimpangan baru. Tantangan terbesar dalam perjalanan menuju Indonesia digital adalah digital divide, yakni kesenjangan antara mereka yang mampu memanfaatkan teknologi dan mereka yang tertinggal.
Yuval Noah Harari, penulis buku Nexus mengatakan “Teknologi hanyalah alat, dan nilai-nilai manusia akan menentukan ke mana alat itu diarahkan.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa kemajuan digital tidak otomatis membawa kesejahteraan. Tanpa arah yang jelas, teknologi bisa memperlebar jurang, bukan menutupnya.
Data BPS menunjukkan sekitar 27% penduduk Indonesia belum mengakses internet pada 2024. Kesenjangan ini terlihat lebih besar di kawasan timur Indonesia. Di sinilah tantangan terbesar agar digitalisasi tak hanya berhenti di kota besar, tapi juga harus menembus desa, daerah pesisir, dan pegunungan.
Kita perlu memastikan ekonomi digital tidak menjadi ruang eksklusif bagi mereka yang sudah terhubung, tetapi jembatan bagi mereka yang masih tertinggal. Teknologi seharusnya menjadi alat pemerataan kesempatan, bukan penentu siapa yang beruntung.
Pada akhirnya, kita akan menghadapi masa depan yang tak selalu pasti. Ada badai ketimpangan, arus disrupsi, dan kabut ketidakpastian global. Tapi dengan kompas yang jelas, kita bisa menavigasi semua ketidakpastian itu dengan tenang.
Indonesia niscaya mampu menyongsong era keemasan dengan digitalisasi asal kita tahu cara membaca kompasnya.
Artikel ini telah dimuat di BISNIS INDONESIA 7 November 2025
Oct 10, 2025 | Articles on Media
Albania berhasil membuat dunia terperangah. Negara di Eropa Tenggara ini baru saja melantik seorang menteri bernama Diella. Ia bukan politisi karismatik, bukan pula teknokrat muda lulusan universitas top dunia. Diella hanyalah sebuah entitas digital, berupa kecerdasan buatan yang diberi mandat untuk mengawasi proses pengadaan publik.
Fenomena ini jelas bukan sekedar eksperimen politik. Kemunculan Diella membawa pesan simbolis. Masa depan akan banyak ditentukan oleh peran akal imitasi (AI). Diskursus menarik lantas berkembang di ruang publik. Jika kursi menteri bisa ditempati oleh algoritma, apakah industri keuangan siap menyerahkan keputusan kredit kepada algoritma?
Dunia perbankan telah lama hidup dalam dilema. Di satu sisi, bank harus menyalurkan kredit sebagai bahan bakar pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, bank harus menjaga risiko kredit agar tetap rendah. Dalam praktiknya, bank sulit membedakan mana debitur yang benar-benar mampu membayar dan mana yang sekadar terlihat meyakinkan di atas kertas.
Dalam teori ekonomi, masalah ini erat kaitannya dengan informasi asimetris. Bank kerap menutup celah itu dengan jaminan dan sederet syarat administratif. Sayangnya, banyak UMKM yang sehat secara bisnis justru gagal mendapat kredit. Alasan klasiknya, karena mereka tak punya agunan atau catatan keuangan yang rapi. Di sinilah AI masuk sebagai game changer.
AI menawarkan sesuatu yang baru. Ia mampu membaca pola dalam big data. Jika analis kredit hanya melihat laporan keuangan dan riwayat pinjaman, algoritma AI mampu menggali lebih dalam.
Dari transaksi harian, pembayaran listrik, belanja di e-commerce, sampai jejak digital yang kadang luput dari perhatian manusia. Alhasil, bank tidak hanya menilai kinerja masa lalu, tapi juga memprediksi kapabilitas masa depan.
Studi kasus serupa juga terjadi di bidang sistem pembayaran. AI memungkinkan perbankan melakukan deteksi kecurangan (fraud) secara real-time. Algoritma mampu membaca transaksi tidak wajar dalam hitungan detik. Implikasinya, keamanan transaksi meningkat sehingga kepercayaan publik kepada bank tetap terjaga dengan cara yang lebih efisien.
Secara teoritis, kita bisa kaitkan kemampuan AI ini dengan teori rasionalitas terbatas (bounded rationality). Herbert Simon (1956) menjelaskan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya rasional.
Kapasitas otak terbatas, informasi yang tersedia tidak sempurna, dan waktu pengambilan keputusan sering singkat. Maka, manusia membuat keputusan dengan “cukup baik”, bukan “sempurna”.
AI seolah memberi solusi untuk keterbatasan ini. Dengan daya komputasi yang jauh melampaui manusia, AI menawarkan analisis yang lebih mendekati “rasionalitas penuh”. Ia mampu menghapus bias subjektif manusia. Dengan AI, kita tidak akan lagi mendengar cerita kredit pengusaha kecil ditolak hanya karena penampilan atau status sosialnya.
Konteks Indonesia membuat narasi ini semakin relevan. UMKM adalah tulang punggung ekonomi, menyumbang lebih dari 60 persen PDB dan menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerJa.
Tatkala AI digunakan untuk alternative credit scoring, UMKM dinilai bukan hanya dari laporan keuangan. Riwayat belanja bahan baku, transaksi digital, atau performa di marketplace juga akan menjadi bahan pertimbangan.
Dengan begitu, mereka yang selama ini dianggap unbankable punya kesempatan masuk ke sistem keuangan formal. Ini bukan hanya soal kredit. Ini tentang inklusi keuangan dan upaya membuka pintu ekonomi yang lebih luas. Muara akhirnya tentu ialah pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, sampai pemerataan kesejahteraan.
Bias algoritma
Algoritma hanya secerdas data yang diberikan. Rasionalitas AI tetap dibatasi oleh kualitas dan keragaman data yang menjadi masukan. Jika data historis menunjukkan bias yang sistematis, misalnya menolak peminjam di area tertentu, maka AI tidak akan menghilangkan diskriminasi itu. Sebaliknya, AI akan mengabadikannya dan memperkuatnya. Kondisi ini dikenal luas dengan istilah ‘Bias Algoritma.’
Dalil ini sejalan argumen yang disampaikan Cathy O’Neil, penulis buku Weapons of Math Destruction. Ia menyebut algoritma bisa menjadi senjata pemusnah yang sunyi.
Jika data historis penuh bias, maka hasilnya akan ikut bias. Alih-alih membuka akses keuangan, AI justru berisiko memperkuat diskriminasi yang selama ini terjadi.
Selain itu, masih terdapat problematika lain dari implementasi AI. Misalnya, isu kotak hitam (black box) AI. Sering kali bank tidak tahu persis alasan di balik sebuah algoritma menolak atau menerima pengajuan kredit.
Risiko privasi data juga tidak boleh dilupakan. Untuk menilai kelayakan kredit, AI membutuhkan data yang luas dan dalam. Tanpa perlindungan data pribadi yang ketat, data nasabah berpotensi rentan terhadap penyalahgunaan.
Dengan alur berpikir tersebut, algoritma seyogianya ditempatkan dalam kerangka AI dengan pengawasan manusia(human-in-the-loop). Algoritma hanya berfungsi sebagai pemberi sinyal atau rekomendasi awal, sedangkan verifikasi akhir tetap dilakukan oleh manusia.
Kerangka ini bukan hanya soal mitigasi risiko. Ini juga tentang menjaga kepercayaan. Nasabah akan merasa lebih dihargai jika tahu bahwa di balik keputusan kredit ada manusia yang mendengar, bukan hanya mesin yang menghitung. Jika algoritma dibiarkan beroperasi tanpa pengawasan, kita sedang menciptakan oligopoli data. Keputusan vital ditentukan oleh kotak hitam tak berjiwa.
Kisah Diella di Albania menjadi momen reflektif bagi kita. Teknologi dapat meniru peran manusia, tetapi ia tidak dapat menggantikan kearifan dan etika manusia. Diella hanyalah sebuah instrumen. Ia bisa membantu menilai, memprediksi, bahkan mempercepat keputusan. Namun, keputusan itu tetap harus disertai konteks sosial, intuisi, dan etika.
Kita harus memastikan bahwa teknologi melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya. Simbiosis mutualisme wajib dibangun antara algoritma di satu sisi dengan kearifan lokal di sisi lain. AI harus diposisikan sebagai mitra kerja, alih-alih pengganti manusia.
Albert Einstein pernah berkata “Not everything that can be counted counts, and not everything that counts can be counted.” Tidak semua yang bisa dihitung dengan algoritma mencerminkan nilai sebenarnya dari seorang debitur. Pada akhirnya, keputusan kredit bukan hanya soal angka. Lagi-lagi ini adalah soal kepercayaan. Dan, kepercayaan hanya bisa dijaga oleh manusia.
Artikel ini telah dimuat di KOMPAS 11 Oktober 2025
Sep 18, 2025 | Articles on Media
Perkembangan teknologi selalu menghadirkan dua wajah. Di satu sisi, ia membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, ia juga menghadirkan risiko baru yang tidak bisa diabaikan.
Akal imitasi (AI) adalah contoh paling jelas dari paradoks ini. Kita melihat bagaimana AI membantu meningkatkan produktivitas. Namun, AI juga melahirkan bentuk kejahatan digital baru yang semakin kompleks dan sulit dideteksi.
Kejahatan digital yang melibatkan AI kini tidak lagi sebatas deepfake. Ada pula voice cloning yang mampu meniru suara manusia. Modus lain adalah AI-powered phishing, di mana pesan singkat dipersonalisasi menggunakan data pribadi.
Semua ini menunjukkan bahwa lanskap kejahatan digital berubah, dari sekadar serangan manual menjadi serangan otomatis dan cerdas.
Indonesia tidak kebal dari fenomena ini. Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat lebih dari 225 ribu laporan penipuan digital dengan kerugian mencapai Rp4,6 triliun sejak November 2024 hingga Agustus 2025.
Di tingkat global, laporan Sift Digital Trust Index Q2-2025 menyebut jumlah korban penipuan yang dihasilkan oleh AI meningkat sekitar 62% dari tahun sebelumnya.
Ancaman ini tentu bukan hanya soal nominal uang yang hilang. Implikasi yang lebih serius adalah tergerusnya kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi digital yang sedang berkembang pesat.
Nilai transaksi e-commerce domestik pada 2024 mencapai Rp487 triliun atau naik 7,3% dari tahun sebelumnya. Sementara volume pembayaran digital menembus 43,5 miliar atau tumbuh 36,1% secara tahunan.
Nilai dan volume transaksi digital yang begitu besar menjadikan Indonesia ladang subur bagi pelaku kejahatan. Persoalannya, jika publik kehilangan kepercayaan akibat maraknya penipuan berbasis AI, konsumen akan enggan bertransaksi.
Dampaknya jelas: pasar mengecil, inovasi mandek, laju pertumbuhan tersendat, dan ekonomi digital kita bisa kehilangan taringnya di tingkat global.
Risiko tersebut mendorong banyak negara merespon secara cepat. Uni Eropa meluncurkan UU Kecerdasan Buatan (AIAct) yang mengklasifikasikan sistem AI ke dalam empat tingkat risiko: risiko minimal, risiko terbatas, risiko tinggi, dan risiko yang tidak dapat diterima.
Semakin tinggi risikonya, semakin ketat pula kewajiban yang harus dipenuhi, mulai dari transparansi, audit independen, dokumentasi teknis, hingga pengawasan berlapis oleh regulator.
Model regulasi Eropa ini juga menginspirasi banyak negara lain. Misalnya, Thailand lebih menekankan pada pendekatan berbasis risiko dalam pengaturan teknologi AI. Artinya, meskipun diatur secara ketat, masih ada banyak banyak fleksibilitas pada pengembangan inovasi dan pertumbuhan bisnis.
Regulasi tidak diposisikan sebagai rem total, melainkan pagar pengaman agar laju teknologi tidak berubah menjadi ancaman.
Indonesia sejatinya juga telah menyiapkan sejumlah langkah kebijakan serupa. Pertama, menyusun Buku Putih Peta Jalan AI Nasional beserta konsep Pedoman Etika AI. Kedua, pelaksanaan Penilaian Kesiapan AI Nasional (AI-RAM) yang bertujuan memetakan peluang sekaligus tantangan penerapan AI di berbagai sektor.
Ketiga, penerbitan surat edaran menteri tentang etika AI yang digunakan sebagai rujukan awal bagi pelaku industri dan lembaga publik. Keempat, pemanfaatan kerangka hukum yang telah ada, seperti Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), sebagai landasan untuk perlindungan data serta etika pemrosesan informasi berbasis AI.
Pada tataran industri, sektor perbankan dan pembayaran digital tanah air cukup siap memitigasi risiko penyalahgunaan AI. Fraud detection system berbasis AI telah diterapkan untuk membaca pola transaksi secara seketika dan memberi sinyal bila terjadi anomali.
Ketika terdapat transaksi di luar kebiasaan nasabah, sistem dapat langsung mendeteksi kejanggalan itu, menahan sementara transaksi, atau meminta otentikasi tambahan.
Literasi digital
Kehadiran regulasi AI tentu sangat penting, tapi itu saja tidak cukup. Aturan tanpa pemahaman hanyalah teks di atas kertas. Disinilah literasi digital memainkan peran vital.
Tanpa didukung literasi digital yang kuat, masyarakat akan terus rentan menjadi target kejahatan digital. Banyak kasus penipuan berhasil bukan karena kecanggihan teknologi semata, tetapi karena kelengahan korban.
Literasi digital seringkali dianggap sebagai hal teknis, yakni sekadar tahu cara menggunakan gawai atau aplikasi pembayaran. Padahal maknanya jauh lebih luas. Literasi digital adalah kemampuan memahami, menganalisis, dan menilai informasi di ruang digital.
Dalam konteks kejahatan berbasis AI, literasi digital berarti masyarakat tidak hanya cakap mengoperasikan aplikasi, tetapi juga memiliki sense of alertness ketika menghadapi potensi penipuan.
Dalam implementasinya, literasi digital terdiri dari tiga lapisan utama. Pertama, literasi teknis untuk memahami cara kerja aplikasi, fitur keamanan, serta langkah-langkah proteksi dasar.
Kedua, literasi kritis yang mampu membedakan informasi yang sahih dari manipulasi digital, termasuk konten deepfake atau pesan mencurigakan.
Teori ekonomi perilaku menjelaskan bahwa manusia sering kali tidak bertindak rasional, meski mereka punya informasi yang cukup. Kita punya bias psikologis dan emosional yang membuat keputusan melenceng.
Dalam konteks kejahatan digital berbasis AI, bias-bias ini dimanfaatkan secara sistematis. Di titik ini, literasi kritis menjadi kebutuhan mendesak. Sebab yang dapat mencegah korban jatuh ke jebakan adalah kemampuan individu mengenali biasnya sendiri.
Ketiga, literasi etis, yaitu kesadaran bahwa penggunaan teknologi juga menyangkut tanggung jawab sosial dan perlindungan terhadap orang lain.
Menghargai privasi orang lain, mencegah penyebaran konten berbahaya, serta berperan aktif menjaga ruang digital agar tetap sehat adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem literasi ini.
Dengan pendekatan berlapis, literasi digital niscaya bisa menjadi benteng yang kokoh. Berbekal hal ini, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi objek pasif yang digerus oleh teknologi, melainkan subjek yang aktif, sadar, dan berdaya.
Karena pada akhirnya, inti dari ekonomi adalah kepercayaan. Peraih nobel ekonomi tahun 1972, Kenneth Arrow menegaskan, “Kepercayaan adalah pelumas dalam sistem ekonomi.” Tanpa kepercayaan, transaksi terhambat, inovasi kehilangan pijakan, dan mesin ekonomi berjalan stagnan.
Dalam konteks ekonomi digital, pernyataan Arrow menemukan relevansinya. Teknologi AI menjanjikan efisiensi dan inovasi. Namun, janji itu hanya akan terwujud jika masyarakat percaya bahwa data mereka aman dan algoritma tidak bias.
Karena itu, tugas utama kita hari ini bukan hanya mengawal regulasi atau menyiapkan infrastruktur, melainkan juga memastikan bahwa kepercayaan digital oleh publik tetap terjaga.
Menjaga kepercayaan digital di era akal imitasi bukan soal menolak kemajuan, melainkan tentang menyelaraskan inovasi dengan tata kelola yang kuat. Dengan menjaga kepercayaan, kita bisa mengelola AI menjadi kekuatan bagi masa depan Indonesia.
Artikel ini telah dimuat di INVESTOR DAILY 18 September 2025
Sep 6, 2025 | Articles on Media
Dalam sejarah ekonomi, teknologi pembayaran selalu menjadi motor integrasi. Dahulu emas menjadi standar kepercayaan, lalu digantikan oleh uang kertas yang diterima lintas batas. Kemudian hadir kartu kredit yang membuka jalan bagi transaksi global.
Kini, QRIS Antarnegara melanjutkan tradisi itu. Momentum 17 Agustus 2025 menjadi tonggak sejarah penting yang menandai penggunaan QRIS di Negeri Sakura.
Jepang tentu bukan sekadar destinasi wisata utama bagi turis Indonesia. Ia adalah salah satu negara perekonomian terbesar di dunia.
Fakta bahwa peluncuran implementasi QRIS di Jepang merupakan ekspansi pertama di luar ASEAN memperlihatkan dua hal sekaligus, yaitu naiknya kredibilitas standar pembayaran kode QR tanah air, dan bertambahnya soft power Indonesia di arsitektur pembayaran Asia.
Bagi Jepang, kerja sama ini sejalan dengan upaya bank sentral Jepang yang tengah fokus memperluas adopsi pembayaran digital. Jepang telah lama dikenal sebagai negeri yang begitu setia pada uang tunai.
Namun, perlahan arah itu mulai berubah. Data terbaru menunjukkan transaksi nontunai sudah melampaui 42% atau lebih cepat dari target pemerintah. Fenomena ini menarik karena Jepang pernah dianggap terlambat dibanding Korea Selatan atau Tiongkok.
Kehadiran QRIS di Jepang tidak hanya merepresentasikan sebuah inovasi digital, tetapi juga cara baru diplomasi ekonomi. Selama ini kita terbiasa melihat kerja sama ekonomi antarnegara lewat perjanjian dagang yang rumit.
QRIS menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia membuka ruang integrasi yang lebih nyata dan langsung dirasakan masyarakat. Diplomasi ekonomi kini bisa terjadi di meja kasir sebuah toko di Tokyo, ketika turis Indonesia menyelesaikan transaksi hanya dengan satu sentuhan.
Untuk memahami signifikansinya, kita perlu menoleh ke pengalaman ASEAN. Sejak memulai konektivitas dengan Thailand (Agustus 2022), Malaysia (Mei 2023), dan Singapura (November 2023), implementasi QRIS Antarnegara telah menunjukkan hasil yang membanggakan. Hingga Juni 2025, transaksi lintas batas melalui QRIS ke tiga negara itu telah mencapai Rp1,66 triliun.
Dari jumlah tersebut, Malaysia mencatat lebih dari 4,3 juta transaksi senilai Rp1,15 triliun, Thailand hampir satu juta transaksi bernilai Rp437,54 miliar, dan Singapura sekitar 238 ribu transaksi senilai Rp77,06 miliar.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata bagaimana sebuah infrastruktur pembayaran mampu menjadi katalis integrasi ekonomi kawasan.
Jepang kini menambahkan simpul penting dalam jaringan ini. Pada 2024, jumlah wisatawan Indonesia ke Jepang mencapai 517 ribu orang, dengan total belanja sebesar USD 698 juta atau setara Rp11 triliun.
Angka ini naik signifikan dari tahun sebelumnya dan diproyeksikan akan terus meningkat. Dengan adanya QRIS Antarnegara, sebagian besar transaksi ini berpotensi berpindah ke jalur digital yang lebih efisien.
Dengan alur berpikir di atas, manfaat QRIS Antarnegara terlihat jelas dari tiga sisi. Pertama, transaksi turis domestik di Jepang menjadi lebih mudah karena menggunakan aplikasi pembayaran dalam negeri.
Kedua, bagi Jepang, langkah ini sejalan dengan agenda mereka membangun cashless society sekaligus memperkuat daya tarik wisata. Ketiga, kerja sama ini meningkatkan posisi Indonesia dalam peta diplomasi ekonomi digital regional.
Tidak hanya itu, diplomasi QRIS Antarnegara menunjukkan bahwa peran bank sentral tidak lagi sebatas pengelola moneter. Ia juga berperan sebagai arsitek ekosistem keuangan digital. Di tengah persaingan global yang makin ketat, faktor kecepatan dan skala jadi kunci.
Negara yang mampu membangun infrastruktur pembayaran lintas batas akan memiliki keunggulan dalam menarik wisatawan, memperkuat perdagangan jasa, dan bahkan meningkatkan daya tarik investasinya. Dan, Indonesia sedang menapaki jalan itu.
Dari sisi makro, keberhasilan QRIS Antarnegara juga mendukung strategi diversifikasi mata uang dalam transaksi internasional. Ketika wisatawan Indonesia dapat bertransaksi dengan konversi langsung Rupiah–Yen, ketergantungan terhadap mata uang asing tertentu sebagai perantara dapat diminimalkan.
Pada gilirannya, langkah ini akan menjadikan arus transaksi menjadi lebih efisien dan mengurangi risiko nilai tukar.
Efisiensi biaya
Secara teoritis, implementasi QRIS Antarnegara bisa dibaca melalui lensa transaction cost economics yang dikemukakan Oliver Williamson. Salah satu fungsi institusi adalah menurunkan biaya transaksi dengan menciptakan kepastian.
QRIS Antarnegara menjalankan fungsi ini dengan sangat baik. Wisatawan Indonesia tidak perlu lagi menanggung biaya kurs yang berlapis atau kerepotan membawa uang tunai dalam jumlah besar.
Merchant di Jepang pun lebih mudah menerima pembayaran dari wisatawan Indonesia tanpa harus terikat kontrak dengan jaringan internasional yang mahal. Alhasil, biaya transaksi bisa dipangkas secara signifikan, serta menciptakan efisiensi yang menguntungkan kedua belah pihak.
Kita juga bisa meminjam perspektif network economics. Nilai sebuah jaringan tidak tumbuh linier, melainkan eksponensial seiring bertambahnya simpul. Konektivitas QR lintas negara di ASEAN—antara Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura—sudah membuktikan hal ini.
Wisatawan antarnegara dapat melakukan transaksi lintas batas dengan mudah, sektor pariwisata meningkat, dan UMKM mendapatkan akses ke konsumen baru.
Jepang, sebagai anggota negara G7, menjadi simpul strategis yang memperluas jaringan manfaat tersebut.
Setiap wisatawan baru yang bertransaksi dan setiap merchant yang menerima pembayaran menambah bobot sistem, memperkuat kredibilitasnya, dan menciptakan lingkaran kepercayaan yang semakin luas.
Dengan langkah ini, kehadiran QRIS di Negeri Sakura merupakan batu loncatan strategis untuk menembus pasar baru.
Kisah sukses di Tokyo akan membuka pintu ekspansi ke negara lain seperti Tiongkok, Korea Selatan dan Arab Saudi. Implikasinya, Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai inovator pembayaran digital regional.
Dan yang terpenting, keberhasilan QRIS Antarnegara ke Jepang juga memberi pesan pada dunia. Indonesia mulai tampil sebagai rule-setter yang mampu menawarkan model baru bagi tata kelola pembayaran lintas batas.
Langkah ini memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan forum global, termasuk G20 dan Bank for International Settlements (BIS), di mana isu pembayaran lintas batas menjadi agenda strategis.
Artikel ini telah dimuat di KONTAN 6 September 2025
Aug 2, 2025 | Articles on Media
Dalam sejarah moneter, kekuatan uang tak hanya ditentukan oleh angka pada selembar kertas. Nilai uang lahir dari kepercayaan. Bukan kebetulan jika uang disebut fiat yang berarti “jadilah” dalam bahasa Latin.
Nilainya ada karena masyarakat sepakat bahwa ia bernilai. Tapi dalam dunia yang berubah cepat, kepercayaan itu kini sedang diuji. Bukan karena krisis likuiditas atau inflasi global, tapi oleh uang digital bernama stablecoin.
Dalam beberapa tahun terakhir, stablecoin berkembang dari sekadar instrumen dalam ekosistem kripto menjadi aset yang mendekati fungsi uang konvensional.
Volume transfer stablecoin global dilaporkan mencapai USD 27,6 triliun pada 2024. Angka ini melampaui gabungan nilai transaksi Visa dan Mastercard pada tahun yang sama.
Sebagai bentuk aset digital yang dipatok pada nilai tetap, stablecoin menjanjikan kepastian nilai, berbeda dari mata uang kripto lain seperti Bitoin yang tidak dipatok pada nilai tetap.
Selain itu stablecoin juga memberikan efisiensi dan kecepatan transaksi tanpa melalui sistem perbankan.
Tapi, janji tersebut datang bersama risiko yang tidak mudah. Stabilitas nilai stablecoin sangat bergantung pada kualitas cadangan aset yang mendukungnya.
Kasus kejatuhan Terra USD pada 2022 menjadi peringatan bahwa tanpa cadangan riil yang kredibel, label stabil hanya ilusi.
Terra runtuh karena kepercayaan pasar yang menguap ketika masyarakat sadar bahwa jaminan stabilitasnya tak lebih dari algoritma dan asumsi pasar yang rapuh.
Di tengah dinamika ini, sejumlah negara mulai merespons dengan kebijakan yang lebih akomodatif. Salah satunya ialah Jepang yang mengakui stablecoin sebagai alat pembayaran melalui Payment Services Act pada 2022.
Regulasi ini juga mewajibkan penerbit stablecoin memiliki cadangan penuh dalam bentuk aset likuid dan pengawasan ketat atas aset pendukung stablecoin.
Langkah serupa juga ditempuh oleh Amerika Serikat melalui GENIUS (Guiding and Establishing National Innovation for U.S. Stablecoins) Act.
Ketentuan ini membuka jalan bagi lembaga non-bank untuk turut serta dalam proses penciptaan uang digital berbasis blockchain. Hanya entitas yang diawasi otoritas keuangan yang diizinkan menerbitkan stablecoin.
Bahkan sejumlah media internasional menyebut perusahaan ritel raksasa seperti Amazon dan Walmart diperkirakan akan meluncurkan stablecoin sendiri pasca implementasi UU ini.
Langkah ini akan menggantikan layanan kartu kredit yang umumnya mengenakan biaya transaksi 2–3%. Ini bisa mempercepat adopsi stablecoin sebagai alternatif uang tunai dalam aplikasi digital, remitansi, dan pembayaran ritel.
Dalam kacamata inovasi, langkah negara maju ini bisa dibilang pro-market. Secara sepintas, ini terlihat seperti langkah progresif bahwa melarang teknologi hanya akan membuat mereka tertinggal.
Namun demikian, kehadiran UU ini mungkin adalah awal dari medan yang belum sepenuhnya dipetakan.
Tantangan stablecoin
Walau telah diregulasi dengan baik, stablecoin tetap membawa potensi disrupsi terhadap sistem keuangan tradisional. Disintermediasi menjadi problematika nyata.
Ketika masyarakat lebih memilih menyimpan dana di dompet digital berbasis stablecoin daripada rekening bank, maka dana pihak ketiga di perbankan berpotensi turun. Implikasinya, kapasitas bank untuk menyalurkan kredit akan ikut melemah.
Dari perspektif makro, tantangan lebih besar muncul ketika stablecoin ditransaksikan secara lintas negara. Dana bergerak cepat melintasi yurisdiksi tanpa melalui sistem perbankan yang terpantau oleh otoritas domestik.
Perlindungan konsumen akan menjadi isu krusial. Tidak seperti rekening bank yang memiliki lembaga penjaminan, kejatuhan penerbit stablecoin di luar negeri bisa jadi akan berdampak pada hilangnya dana pengguna di dalam negeri secara permanen.
Selain itu, fenomena ini dapat melemahkan kontrol otoritas moneter terhadap peredaran uang. Implikasinya, regulator terjebak dalam dilema: membuka sistem demi efisiensi, atau mempertahankan kedaulatan dengan risiko terpinggirkan dari inovasi global.
Kondisi ini bisa dianalisis melalui teori impossible trinity atau trilema moneter. Dalam dunia dengan arus modal bebas dan stablecoin lintas batas, sulit bagi sebuah negara untuk mempertahankan kebijakan moneter yang independen dan stabilitas nilai tukar secara bersamaan.
Negara harus memilih dua dari tiga tujuan tersebut. Stablecoin berpotensi memaksa negara untuk melepaskan sebagian kedaulatannya demi keterbukaan sistem keuangan global.
Dalam konteks Indonesia, pendekatan kehati-hatian tetap menjadi prioritas. UU Mata Uang menegaskan bahwa rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI.
Kebijakan Bank Indonesia juga telah menutup ruang penggunaan kripto, termasuk stablecoin, sebagai alat pembayaran domestik. Kebijakan ini bukan soal chauvinisme rupiah atau anti-inovasi. Ini adalah langkah strategis.
Ada dua argumen utama yang mendasarinya. Pertama, mayoritas stablecoin saat ini belum diaudit secara menyeluruh, sehingga transparansi dan keamanan cadangannya masih diragukan.
Kedua, belum adanya mekanisme pengawasan lintas negara yang kuat. Otoritas sulit melakukan intervensi jika terjadi disrupsi di stablecoin yang dikeluarkan di luar negeri.
Di tingkat global, mayoritas bank sentral merespon disrupsi ini melalui pengembangan mata uang bank sentral atau Central Bank Digital Currency(CBDC).
Menurut Atlantic Council (2025), saat ini 72 negara termasuk G20 tengah terlibat dalam proyek ini, termasuk Indonesia melalui Proyek Garuda.
Upaya ini tidak hanya menjawab kebutuhan efisiensi, tetapi juga untuk menjaga kedaulatan moneter dan menjamin perlindungan konsumen.
Andrew Bailey, mantan gubernur bank sentral Inggris mengatakan, “Tugas kami adalah memastikan inovasi tidak mengorbankan keamanan sistem keuangan.”
Pendekatan yang diambil oleh bank sentral bukan untuk menghambat kemajuan teknologi, tetapi memastikan bahwa inovasi keuangan berjalan dalam ekosistem yang terkendali.
Menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan inovasi agar tidak menciptakan kerentanan baru adalah kunci utamanya.
Pada akhirnya, kita juga harus belajar dari sejarah: banyak krisis keuangan bermula bukan dari adopsi teknologi yang lambat, melainkan dari kelengahan dalam pengawasan.
Oleh karena itu, kebijakan sistem pembayaran oleh bank sentral bukan soal menjadi yang tercepat, tetapi juga yang paling siap menghadapi risiko.
Artikel ini telah dimuat di KONTAN 2 Agustus 2025
Jul 15, 2025 | Articles on Media
Ada satu kesamaan prinsip antara mengemudi kendaraan dan mengelola kebijakan sistem keuangan. Inovasi ibarat pedal gas yang mempercepat laju keuangan digital. Tapi secepat apa pun kendaraan, tanpa rem yang berfungsi, perjalanan justru berbahaya.
Maka, pedal rem berupa regulasi dalam sistem keuangan menjadi syarat agar perjalanan ekonomi digital bisa berlanjut tanpa risiko benturan di tengah jalan.
Analogi pedal gas dan rem semakin relevan dalam konteks hari ini. Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan perubahan dramatis dalam wajah dunia keuangan.
Awalnya, kripto hanya dianggap sebagai alat spekulasi. Namun, perlahan tapi pasti, aset kripto mulai merambah sebagai sumber dana dalam aplikasi pembayaran global. Tantangannya, apakah sistem keuangan dan regulator siap mengendalikan lajunya agar tetap presisi?
Di banyak negara, kripto mulai digunakan secara aktif dalam transaksi. Layanan dompet digital, seperti PayPal telah membuka akses bagi pengguna untuk mengonversi kripto menjadi mata uang lokal dan langsung menggunakannya untuk pembayaran.
Bahkan kartu debit yang terhubung dengan saldo kripto kini mulai marak diterbitkan oleh perusahaan seperti Coinbase dan Binance.
Mekanismenya relatif sederhana: pengguna memiliki dompet kripto, aplikasi menghitung konversi nilai, lalu menyalurkan dana ke merchant dalam bentuk uang fiat. Cepat, efisien, dan bagi sebagian orang lebih murah dibanding sistem perbankan konvensional, terutama untuk remitansi antarnegara.
Di Singapura, integrasi kripto dalam sistem pembayaran ritel bukan lagi wacana. Grab, sebagai super app, telah menjalin kemitraan dengan Triple-A sebagai penyedia layanan pembayaran yang sudah berlisensi resmi di negara itu.
Lewat kolaborasi ini, pengguna bisa mengisi ulang saldo GrabPay mereka menggunakan aset kripto seperti Bitcoin atau Ethereum. Nilainya langsung dikonversi ke dolar Singapura secara instan.
Kripto tak lagi berdiri di luar sistem pembayaran formal. Ia mulai menempel, menyusup, dan menyatu. Ketika sumber dana dalam sistem pembayaran berasal dari aset yang volatil, lintas yurisdiksi, dan tidak dijamin negara, maka stabilitas sistem keuangan bisa goyah.
Apalagi jika kripto digunakan oleh jutaan orang untuk aktivitas ekonomi sehari-hari. Efektivitas kebijakan moneter oleh bank sental mulai luntur seperti rem mobil yang longgar di jalan menurun.
Munculnya layanan yang menghubungkan kripto dengan dompet digital mengindikasikan satu hal: ekonomi digital mulai membentuk cabang-cabang baru yang tidak seluruhnya ditanam di dalam sistem keuangan formal.
Kalau dulu kita bicara soal “shadow banking,” maka sekarang kita mungkin sedang melihat munculnya “shadow liquidity” — dana yang mengalir dari aset digital ke konsumsi, tanpa selalu melewati saluran yang diawasi regulator.
Dua kutub
Pembahasan tentang mata uang kripto kerap membawa kita pada dua kutub ekstrem. Di satu sisi, mayoritas regulator melihatnya sebagai potensi ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan, efektivitas kebijakan moneter, bahkan kedaulatan negara.
Di sisi lain, ada pandangan bahwa kripto sebagai masa depan sistem keuangan yang lebih inklusif, terdesentralisasi, dan efisien.
Menurut laporan World Economic Forum (2025), meskipun sebagian besar bank sentral masih berhati-hati terhadap penggunaan aset kripto dalam sistem keuangan, banyak dari mereka tengah mengembangkan kebijakan yang lebih adaptif terhadap inovasi di sektor digital.
Beberapa bank sentral, seperti yang tercatat oleh BIS (Bank for International Settlements), menganggap bahwa kripto berpotensi menimbulkan ancaman terhadap stabilitas keuangan global, terutama karena volatilitas yang tinggi dan kurangnya regulasi yang jelas.
Namun, Amerika Serikat seperti memberi panggung pada industri kripto. Terpilihnya Donald Trump yang dikenal sebagai figur pro-kripto memperkuat ekspektasi pasar terhadap regulasi yang lebih longgar.
Trump sudah menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak akan membiarkan AS kalah dalam revolusi aset digital. Beberapa analis bahkan memperkirakan bahwa masa kepemimpinan Trump bisa menjadi titik balik adopsi institusional kripto di Amerika.
Misalnya, UU Inovasi Stablecoin Amerika (GENIUS ACT) yang diusulkan pada Juni 2025 mengatur bahwa stablecoin harus didukung sepenuhnya 1:1 oleh aset-aset likud berkualitas tinggi seperti surat utang pemerintah AS.
Perlindungan hukum seperti ini tentu mempercepat adopsi pasar, sekaligus memperbesar tantangan dalam pengendalian risiko.
Tapi, mari kita lihat pengalaman negara lain yang sudah lebih dulu melangkah. El Salvador contohnya.
Negara ini sempat menarik perhatian dunia karena menjadikan Bitcoin sebagai legal tender dan bagian dari cadangan negara sejak 2021. Artinya, semua pihak di negara itu harus menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran.
Kebijakan itu terlihat progresif, tapi realitas berbicara lain. Dalam waktu singkat, negara di Amerika Tengah ini sempat berada di ambang kebangkrutan ekonomi karena terjerat lebih banyak hutang pada tahun yang sama karena penurunan nilai Bitcoin.
Bahkan, hasil survei terbaru menunjukkan hanya 7,5% penduduk El Salvador yang menggunakan Bitcoin untuk transaksi.
Pengalaman ini mengajarkan satu hal sederhana: terlalu cepat melangkah tanpa kesiapan bisa membawa risiko besar. Yang sering terlewat dari euforia kripto adalah kenyataan bahwa aset ini masih merupakan “kotak hitam”.
Kita tidak benar-benar tahu siapa pihak dominan yang menggerakkan harga dan bagaimana struktur pasarnya terbentuk. Bahkan stablecoin yang tampak stabil di permukaan, menyimpan risiko besar dalam hal transparansi cadangan.
Apalagi aset kripto umumnya tidak memiliki nilai yang stabil. Pergerakannya bisa sangat tajam dalam waktu singkat, dipengaruhi oleh sentimen pasar global, spekulasi, dan bahkan cuitan tokoh tertentu.
Ketika nilai alat tukar tidak bisa diprediksi, maka stabilitas transaksi menjadi taruhan yang bermuara pada kerugian bagi konsumen maupun pelaku usaha.
Kehadiran kripto sebagai sumber dana pembayaran menciptakan ilusi efisiensi, serta berpotensi menyembunyikan risiko sistemik yang sulit dideteksi dengan perangkat pengawasan konvensional.
Maka kehati-hatian bukanlah bentuk ketertinggalan, tapi strategi bertahan dalam dunia yang tidak pasti.
Dengan berbagai konsideran risiko di atas, tidaklah mengherankan apabila mayoritas bank sentral mengambil posisi wait and seet sebelum mengadopsi kripto dalam lingkup sistem pembayaran.
Apalagi, dalam konteks dalam negeri, UU Mata Uang telah mengamanatkan rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah di Indonesia.
Namun, sikap konservatif tersebut tidak berarti menolak inovasi teknologi di balik kripto. Banyak bank sentral memiliki pandangan lebih positif dengan fokus pada pengembangan mata uang bank sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC) sebagai alternatif untuk mengimbangi perkembangan teknologi kripto.
Menurut Atlantic Council (2025), saat ini 72 negara termasuk G20 tengah terlibat dalam proyek ini, termasuk Indonesia melalui Proyek Garuda.
Pada akhirnya, membuka pintu bagi kripto sebagai sumber dana pembayaran tidak bisa dilakukan dengan gegabah. Teknologi mungkin menjanjikan efisiensi, tapi kebijakan publik bukan hanya soal tren atau adu cepat adopsi teknologi baru. Ini juga tentang menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Tantangan terbesar saat ini ialah menjaga keseimbangan pedal gas inovasi dan pedal rem regulasi agar manfaat inovasi digital benar-benar bisa dinikmati tanpa menciptakan risiko sistemik.
Mengutip kata Joseph Stiglitz, peraih nobel ekonomi tahun 2001, “Inovasi keuangan tanpa regulasi adalah resep menuju instabilitas.”
Artikel ini telah dimuat di INVESTOR DAILY 15 Juli 2025
Jul 3, 2025 | On Self-Productivity
Bayangkan kamu bekerja di sebuah perusahaan di mana bosmu tidak memiliki kantor pribadi. Ia duduk bersama timnya, bekerja di meja yang sama, tanpa batasan fisik maupun psikologis. Ia tidak meminta laporan absensi, tidak memantau jam kerja, tapi timnya justru lebih produktif dan penuh semangat.
Kedengarannya seperti mimpi? Bagi Kevin Kruse, penulis buku Great Leaders Have No Rules, itulah masa depan kepemimpinan—dan mungkin satu-satunya cara untuk memimpin secara otentik di era modern.
Kevin Kruse, seorang entrepreneur sukses dan pemimpin beberapa perusahaan teknologi, memulai buku ini dengan satu gagasan provokatif: Aturan-aturan lama dalam kepemimpinan sudah usang.
Di dunia kerja yang terus berubah, pendekatan top-down dan penuh kontrol justru menjadi penghambat. Para pemimpin hebat hari ini bukanlah pengatur atau pengawas, melainkan pemberi kepercayaan, pemberi inspirasi, dan pemutus rantai aturan yang tak perlu.
Pemimpin Hebat Tidak Punya Aturan
Buku ini dimulai dengan satu pertanyaan besar: “Apa jadinya jika seorang pemimpin membuang semua aturan?”
Jawabannya tidak sesederhana chaos atau anarki. Justru, dalam ketiadaan aturan yang kaku, muncul rasa tanggung jawab personal dan kebebasan bertindak. Kruse bercerita tentang pengalamannya memimpin tim tanpa aturan HR yang ketat—tanpa kebijakan cuti, tanpa aturan jam kerja—dan hasilnya? Kepercayaan dan loyalitas yang luar biasa dari karyawannya.
Menghapus aturan bukan berarti membiarkan semua hal berjalan tanpa arah. Sebaliknya, ini tentang mengganti sistem kontrol eksternal dengan kesadaran internal. Ketika orang dewasa diperlakukan sebagai orang dewasa, mereka akan menunjukkan kedewasaan mereka.
Dari “Kontrol” ke “Koneksi”
Salah satu bab terpenting dalam buku ini adalah ketika Kruse menantang aturan “buka pintu kantor” yang selama ini dipandang sebagai simbol transparansi. Ia menyarankan pemimpin untuk menutup pintu mereka—dan bahkan lebih baik, tidak punya pintu sama sekali.
Kantor pribadi, bagi Kruse, menciptakan jarak dan hierarki. Ia menyarankan kita untuk bekerja di ruang terbuka, bersama tim, mendengarkan mereka secara langsung, dan hadir sepenuhnya dalam percakapan informal.
Alih-alih menjadi pemimpin yang “terbuka”, kita diajak untuk menjadi pemimpin yang tersedia dan setara. Di sinilah peran koneksi personal menjadi lebih penting daripada aturan struktural. Bukan struktur yang menciptakan kepercayaan, tapi interaksi yang otentik.
Jangan Pernah Menyuruh—Tapi Tawarkan Pilihan
Kruse kemudian menyentil kebiasaan pemimpin yang selalu memberikan instruksi. “Suruh mereka kerjakan ini”, “Saya mau laporan itu besok”, atau “Jangan lakukan itu lagi.”
Bagi Kruse, pemimpin hebat tidak menyuruh, tapi memengaruhi. Daripada berkata, “Tolong kamu kerjakan proyek ini”, ia menyarankan untuk berkata, “Saya butuh bantuan untuk menyelesaikan proyek ini. Menurutmu, bagaimana kamu bisa membantu?” Perbedaan kecil ini menciptakan rasa memiliki dalam diri anggota tim. Mereka merasa terlibat, bukan disuruh.
Privasi Adalah Ilusi
Salah satu ide paling berani dalam buku ini adalah ketika Kruse mengatakan bahwa pemimpin harus membunuh mitos privasi. Bukan dalam arti menjadi pemimpin yang kepo atau mengintip kehidupan pribadi timnya, tapi dalam arti bahwa pemimpin harus tahu siapa anggota timnya—bukan hanya dari sisi pekerjaan, tapi dari sisi siapa mereka sebenarnya.
Kruse percaya bahwa semakin kita mengenal orang-orang kita, semakin kita bisa memimpin dengan empati. Kita tidak bisa memotivasi orang yang tidak kita kenal. Kita tidak bisa membangun kepercayaan dengan orang yang hanya kita lihat sebagai posisi dalam struktur organisasi.
Menjadi Pemimpin yang Tidak Populer
Poin ini bisa jadi membuatmu berhenti sejenak. Siapa sih yang tidak ingin disukai oleh timnya? Tapi Kruse menulis dengan lantang: “Pemimpin hebat tidak selalu disukai, tapi mereka dihormati.”
Sering kali pemimpin jatuh dalam jebakan ingin menjadi teman bagi semua orang. Akibatnya? Mereka menghindari konfrontasi, tidak berani memberi feedback jujur, dan akhirnya membiarkan kinerja tim menurun.
Kruse mendorong kita untuk berani tidak populer. Memberikan feedback yang sulit. Menyampaikan ekspektasi yang jelas. Dan di atas segalanya, menjadi pemimpin yang adil, bukan yang menyenangkan semua orang.
Jangan Menyamaratakan Aturan
Pernahkah kamu membuat aturan hanya karena satu orang menyalahgunakan kepercayaan?
Kruse menyebut ini sebagai “the bad apple rule”—ketika satu orang membuat masalah, lalu kita membuat aturan baru yang berlaku bagi semua orang. Padahal, aturan itu hanya diperlukan untuk si pembuat masalah.
Dalam kepemimpinan modern, kita perlu meninggalkan pendekatan menyamaratakan. Pemimpin harus punya keberanian untuk mengelola individu, bukan sistem. Pemimpin hebat memperlakukan orang sebagai individu yang unik—dengan gaya kerja, tantangan, dan motivasi yang berbeda.
Kepercayaan, Bukan Pengawasan
Banyak perusahaan menerapkan sistem pengawasan ketat: CCTV, pelacakan waktu kerja, bahkan perangkat lunak pemantau layar komputer. Tapi Kruse justru berargumen bahwa semakin kita mengawasi, semakin kita menciptakan ketidakpercayaan.
Ia mengutip banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kepercayaan adalah kunci produktivitas. Ketika tim merasa dipercaya, mereka cenderung bekerja lebih keras untuk tidak mengecewakan. Sebaliknya, ketika mereka merasa diawasi, mereka justru mencari cara untuk “mengakali sistem”.
Pimpin dengan Otentik dan Percaya
Great Leaders Have No Rules bukanlah ajakan untuk menjadi pemimpin kacau yang menolak sistem. Sebaliknya, buku ini mengajak kita meninggalkan pendekatan usang yang terlalu bergantung pada kontrol, aturan kaku, dan birokrasi.
Di tengah dunia kerja yang semakin dinamis, penuh perubahan, dan didominasi oleh generasi yang mendambakan makna, Kruse menawarkan cara memimpin yang lebih manusiawi, adaptif, dan efektif: dengan kepercayaan, bukan pengawasan; dengan hubungan, bukan dominasi.
Kepemimpinan hebat bukan lagi soal seberapa banyak aturan yang bisa ditegakkan, melainkan seberapa dalam kita bisa terhubung dengan orang-orang yang kita pimpin. Seberapa besar kita mampu menumbuhkan rasa kepemilikan dalam tim, bukan rasa takut akan hukuman.
Di sinilah letak kekuatan sejati pemimpin masa depan—mereka yang bisa melepaskan ego, membuka diri, dan mempercayai orang lain untuk bertumbuh bersama.
Buku ini menggugah kita untuk bertanya: Apakah saya sedang memimpin karena posisi, atau karena kepercayaan? Apakah saya memimpin dengan kendali, atau dengan pengaruh? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan sejauh mana kita bisa membawa tim kita menuju puncak potensi mereka.
Dan jika kamu merasa terjebak dalam pola lama kepemimpinan yang tak lagi relevan, barangkali sudah waktunya untuk mengganti pertanyaan “aturan apa yang harus saya buat?” menjadi “hubungan apa yang harus saya bangun?“
“Your job as a leader isn’t to enforce rules—it’s to shape culture.” – Kevin Kruse
Jun 29, 2025 | Articles on Media
Ada satu kutipan yang kerap didengungkan ekonom ketika mencermati dinamika global terkini: “Don’t waste a good crisis.” Hari ini kita memang tidak mengalami krisis.
Namun, pergeseran besar dalam struktur ekonomi sedang terjadi. Dan transisi semacam ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan perubahan mendasar yang sulit dilakukan dalam situasi normal.
Selama bertahun-tahun, Indonesia menggantungkan ekspor pada komoditas batu bara, CPO, nikel. Para ekonom klasik percaya bahwa keunggulan suatu negara ditentukan oleh faktor alam. Tapi, dunia sudah berubah. Teori itu pelan-pelan ditinggalkan.
Mesin pertumbuhan global tidak lagi semata di ladang atau tambang. Justru komoditas virtual, seperti kode program, algoritma, dan konten digital telah menjadi primadona baru.
Ekonomi digital memang telah membuka banyak jendela peluang baru. Negara yang mampu menghasilkan talenta unggul akan menikmati arus devisa lewat ekspor jasa digital. Richard Baldwin menamakan situasi ini sebagai “third unbundling.”
Pekerjaan bisa dilakukan di mana saja dan kehadiran fisik tak lagi jadi syarat untuk berpartisipasi dalam ekonomi global. Inilah wajah baru globalisasi dari perdagangan komoditas ke persaingan kreativitas.
Secara sederhana, ekspor jasa digital adalah penjualan jasa ke luar negeri yang penyampaian dan transaksinya dilakukan secara digital.
WTO menyebut ekspor jasa digital sebagai salah satu jenis ekspor dengan kenaikan paling cepat secara global. Dalam satu dekade terakhir, rata-rata pertumbuhan tahunannya lebih dari 8% atau lebih tinggi dari ekspor barang.
Jenisnya pun makin beragam. Mulai pengembangan perangkat lunak, animasi, layanan data analytics, cloud computing, digital marketing, hingga jasa edukasi berbasis daring.
Dan yang menarik, sektor ini lebih tahan terhadap disrupsi logistik, lebih inklusif untuk pelaku kecil, dan lebih rendah hambatan tarifnya.
Data statistik menunjukkan nominal ekspor jasa digital global telah menyentuh USD 4,64 triliun pada 2024. India, yang dulu dikenal sebagai negara pertanian dan industri padat karya, kini menjadi raksasa layanan TI dunia dengan nilai ekspor jasa digital USD 269 miliar.
Irlandia, negara kecil dengan populasi 5 juta jiwa, menjadi pusat ekspor perangkat lunak, SaaS, dan layanan back-end dari raksasa teknologi global senilai USD 417 miliar.
Sementara itu, Indonesia dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan penetrasi internet yang mencapai 79% mencatatkan nilai ekspor jasa digital hanya USD 11 miliar. Disinilah letak tantangan, sekaligus juga potensi bagi bangsa kita. Setidaknya ada tiga peluang yang dapat dimanfaatkan.
Pertama, bonus demografi adalah bahan baku utama. Indonesia memiliki lebih dari 70 juta penduduk usia produktif yang melek digital. Angka ini akan terus meningkat hingga 2030.
Jika diarahkan dan dilatih dengan baik, angkatan muda kita bisa menjadi digital labor force yang sangat mumpuni dalam mendulang devisa.
Kedua, daya saing biaya yang cukup kompetitif. Upah rata-rata seorang pengembang aplikasi di Jakarta jauh lebih rendah daripada di San Francisco atau Tokyo, tetapi dengan kualitas yang semakin bisa disetarakan.
Kombinasi value for money tersebut adalah daya tarik kunci bagi klien global. Lanskap ini memberi ruang bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk menjadi hub jasa digital.
Ketiga, akses ke pasar internasional yang semakin mudah. Kehadiran platform digital, seperti Upwork dan Fiverr memungkinkan para talenta digital kita untuk bersaing di panggung global tanpa perlu bermigrasi ke Silicon Valley.
Teknologi telah membuat jarak menjadi tidak relevan di era digital. Inilah demokratisasi ekspor yang belum disadari banyak orang.
Pusat Inovasi Digital
Tak pelak inovasi menjadi sebuah kebutuhan mendesak untuk menangkap peluang besar ini. Sayangnya, inovasi tidak muncul dari ruang hampa. Ia lahir dari interaksi empat pihak, yaitu institusi pendidikan, industri, pemerintah, dan masyarakat.
Pada titik inilah Pusat Inovasi Digital (PID) hadir sebagai aktor sistemik untuk menyatukan keempatnya dalam satu ruang kolaborasi.
Konsep PID berakar pada teori pertumbuhan endogen oleh Paul Romer, seorang ekonom dan peraih nobel ekonomi tahun 2018.
Dalam model ini, pertumbuhan ekonomi tidak hanya didorong oleh modal dan tenaga kerja, tetapi juga oleh akumulasi pengetahuan yang terus tumbuh karena adanya insentif inovasi.
Sebagai contoh, kita bisa belajar dari Block 71 di Singapura, yang awalnya merupakan bekas pabrik industri tua. Hari ini, ia menjadi pusat gravitasi bagi ratusan usaha rintisan, investor, universitas, hingga lembaga pemerintah.
Di sana, ide bisa diujicobakan tanpa takut ditertibkan. Peneliti bisa berkolaborasi dengan pengembang produk. Pemerintah hadir untuk menciptakan ruang aman bagi inovasi.
Alhasil, Block 71 berhasil mendorong ekspor jasa digital Singapura ke pasar global. Dari ruang kecil ini, lahir berbagai usaha rintisan teknologi dengan predikat unicorn, seperti PatSnap dan Carousel.
Studi kasus ini menunjukkan bahwa ekosistem yang kondusif dapat menjadikan ide sebagai komoditas ekspor unggulan.
Dari perspektif makro, PID memainkan peran vital. PID menjadi simpul penting yang menjembatani talenta digital lokal dengan kebutuhan pasar global.
Fungsinya tidak semata-mata mengembangkan keterampilan teknis, seperti pemrograman atau desain, tetapi juga memperluas pemahaman tentang standar internasional, etika bisnis lintas yurisdiksi, serta perlindungan kekayaan intelektual.
Lebih dari sekadar pusat pelatihan, PID juga merupakan ruang eksperimentasi. Disanalah ide-ide tentang AI generatif, blockchain, hingga big data diuji dan dikembangkan.
Proyek-proyek tersebut tidak hanya ditujukan bagi pasar domestik dan global, tetapi juga menjadi etalase kemampuan digital Indonesia di mata dunia.
Misalnya, ketika usaha rintisan di Jakarta berhasil mengembangkan solusi chatbot AI yang diadopsi oleh klien di Asia Tenggara, hal ini bukan hanya soal ekspor teknologi. Ini juga tentang tumbuhnya kepercayaan terhadap kapabilitas digital anak negeri.
Pada akhirnya, ekspor jasa digital adalah masa depan yang sedang mengetuk pintu. Kita tidak bisa berharap mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi jika terus bergantung pada ekspor berbasis sumber daya alam. PID harus menjadi episentrum dari transformasi.
Lebih dari itu, PID harus menumbuhkan cara pandang baru bahwa ekspor tidak melulu soal barang fisik, tapi juga tentang ide, keahlian, dan kreativitas yang berasal dari karya anak bangsa.
Artikel ini telah dimuat di KONTAN 24 Juni 2025
Jun 11, 2025 | Articles on Media
Tidak ada orang yang nyaman dengan kerumitan saat berbelanja. Apalagi ketika bepergian ke luar negeri. Di tengah hiruk-pikuk kota Tokyo atau ketika tawar-menawar buah tangan di Beijing, wisatawan Indonesia sering terjebak dalam drama klasik: bingung mencari konter penukaran uang, resah dengan kurs yang mahal, atau gagal bertransaksi karena kartu kredit tidak terbaca.
Bank Indonesia membaca situasi ini dengan jeli. Bank sentral paham bahwa pembayaran di era digital seharusnya sesederhana satu ketukan di layar gawai cerdas. Karena itu, Bank Indonesia tengah mengakeselerasi kerja sama QRIS antarnegara dengan Jepang dan Tiongkok.
Langkah ini menjanjikan sebuah revolusi: cukup satu aplikasi pembayaran lokal, pelancong tanah air dapat bertransaksi menggunakan QRIS di luar negeri, begitu juga sebaliknya.
Perjalanan kerja sama QRIS antarnegara di kedua negara tersebut tidak terjadi dalam semalam. Misalnya, untuk menjembatani sistem pembayaran Indonesia dan Jepang, Bank Indonesia menjalin nota kesepahaman strategis dengan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang pada Desember 2022.
Kesepakatan ini menandai dimulainya kolaborasi pembayaran digital lintas negara menggunakan QRIS dan Japan Unified QR Code (JPQR).
Di sisi lain, kerja sama sistem pembayaran antara Indonesia dan Tiongkok dibangun di atas fondasi yang lebih luas dari sekadar integrasi teknologi. Bank Indonesia dan People’s Bank of China telah menjalin kemitraan strategis melalui Local Currency Settlement (LCS) pada 2020.
Inisiatif ini memungkinkan penyelesaian transaksi bilateral menggunakan rupiah dan yuan. Dari sinilah hubungan kedua bank sentral berkembang ke ranah sistem pembayaran digital lintas batas.
Kebijakan bank sentral memang tidak harus selalu dibaca dalam angka suku bunga. Kadang kebijakan yang paling berdampak justru adalah saat konsumen bisa bertransaksi di negara lain semudah di negaranya sendiri.
Maka itu, interkoneksi QRIS ke Jepang dan Tiongkok menandakan sebuah bentuk sinergi sistem pembayaran kolektif yang mampu memangkas berbagai friksi.
Efisiensi yang ditawarkan QRIS antarnegara sangat fundamental. Dunia hari ini ditandai dengan tingginya mobilitas masyarakat global. Namun sayangnya, sistem pembayaran sering kali masih terjebak di masa lalu.
Kartu kredit belum tentu diterima di toko kecil, uang tunai harus ditukar dengan biaya tinggi, dan dompet digital kita sering tak kompatibel di luar negeri. Dengan QRIS antarnegara, pelaku UMKM dan wisawatan tidak perlu lagi bergantung pada metode pembayaran lama yang mahal dan lambat.
Secara historis, Indonesia telah melakukan berbagai langkah untuk memperluas implementasi QRIS antarnegara. Thailand, Malaysia dan Singapura merupakan negara tetangga yang telah terkoneksi dengan QRIS sejak tahun 2022 dan 2023.
Kerja sama ini dibingkai dalam kerangka Regional Payment Connectivity yang merupakan salah satu agenda prioritas ketika Indonesia memegang Presidensi G20 tahun 2022 dan Keketuaan ASEAN tahun 2023.
Kolaborasi ini berangkat dari kebutuhan praktis kolektif: pembayaran lintas negara yang cepat, murah, dan aman. Namun di balik kerja sama itu, tersimpan sebuah narasi besar. Dunia sedang bergerak menuju sistem keuangan internasional yang lebih terdesentralisasi dan inklusif.
Dan tentu saja, QRIS antarnegara adalah bagian dari mosaik global yang lebih luas.
Buktinya pada KTT G20 tahun 2020, para pemimpin dunia sepakat bahwa sistem pembayaran lintas negara saat itu masih memerlukan banyak terobosan.
Sebagai respons, G20 meluncurkan “Roadmap for Enhancing Cross-Border Payments.” Tujuannya ambisius: membangun sistem pembayaran global yang lebih murah, cepat, transparan, and inklusif.
Indonesia tidak hanya mendukung gagasan ini secara retoris. Melalui QRIS antarnegara, Indonesia sedang mengambil peran strategis: menjadi simpul penting dalam konektivitas pembayaran kawasan.
Rencana kerja sama QRIS dengan Jepang dan China akan semakin mempertegas posisi sentral Indonesia di kancah internasional.
Implikasi ekonomi
Menghubungkan QRIS dengan sistem pembayaran Jepang memiliki tantangan tersendiri. Negeri Sakura lebih konservatif dalam adopsinya terhadap pembayaran digital. Namun, potensi pembayaran digital terbilang masih sangat besar.
Pasalnya lebih dari 500.000 wisatawan Indonesia datang ke Jepang setiap tahunnya. Sebaliknya, 300.000 turis Jepang berkunjung ke Indonesia.
Tak heran, QRIS niscaya akan memudahkan para pelancong dari kedua belah negara dalam bertransaksi tanpa perlu bergantung pada uang tunai dan kartu.
Di sisi lain, Tiongkok menawarkan tantangan yang berbeda. Negeri Tirai Bambu memiliki kebijakan yang sangat ketat terkait perlindungan data dan keamanan transaksi. Meski demikian, tantangan ini dapat diatasi dengan pengaturan yang cermat antara bank sentral Indonesia dan Tiongkok.
Dengan menjalin kerja sama ini, kedua negara dapat memperkuat hubungan perdagangan sehingga membuka akses pasar baru bagi produk-produk Indonesia.
Sebagian besar diskusi soal QRIS antarnegara memang mengarah pada sektor pariwisata. Wajar, karena sektor ini langsung terdampak. Namun implikasi ekonominya jauh lebih luas.
Pertama, ada potensi besar bagi UMKM lokal untuk berdagang lintas negara. Jika sistem pembayaran antarnegara sudah terintegrasi, maka penjual batik di Pekalongan bisa menerima pembayaran dari pembeli di Osaka atau Shenzhen secara instan dan langsung dalam rupiah.
Kedua, ini membuka jalan untuk penggunaan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara Asia.
Ketika QRIS memungkinkan konversi langsung antara rupiah, yen, atau yuan, maka ketergantungan terhadap satu mata uang global tertentu sebagai perantara dapat diminimalkan. Ini memperkuat kedaulatan moneter dan mengurangi risiko volatilitas eksternal.
Ketiga, efisiensi sistem pembayaran akan berdampak pada sektor lain—dari remitansi pekerja migran, pengiriman uang pelajar luar negeri, hingga e-commerce lintas batas. Sistem yang cepat dan murah menciptakan efek domino bagi pertumbuhan ekonomi digital.
Langkah awal
Pepatah bijak Tiongkok berbunyi “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah.” QRIS antarnegara mungkin hanyalah satu langkah kecil dalam peta besar ekonomi digital Asia.
Namun, ini adalah langkah yang tepat karena ia membuka ribuan langkah berikutnya: perdagangan lebih inklusif, wisata yang lebih praktis, dan UMKM yang lebih percaya diri menembus batas negara.
Sejarah membuktikan bahwa kerja sama ekonomi besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil, seperti pembayaran. Karena di ujung setiap transaksi, ada kepercayaan. Dan di balik setiap sistem pembayaran, ada pilihan: apakah kita hanya ingin menjadi pengguna, atau juga menjadi pemain?
QRIS antarnegara bukan hanya tentang kemudahan. Ia adalah wujud diplomasi dompet—cara baru Indonesia hadir di panggung ekonomi global, bukan dengan bendera, tapi dengan kode QR yang menyala di layar ponsel kita.
Itu bukan mimpi. Itu masa depan yang sedang dibangun hari ini. Satu transaksi QRIS di Tokyo atau Shanghai bisa menjadi simbol kecil dari perubahan besar yang akan datang. Dan Indonesia sudah memilih untuk tidak hanya menonton, tapi ikut bermain.
Artikel ini telah dimuat di INVESTOR DAILY 11 Juni 2025
May 17, 2025 | On Self-Productivity
Satu hal yang sering membuat kita—terutama para manajer dan profesional muda—merasa tidak percaya diri adalah ketika melihat riwayat pekerjaan atau pengalaman karier yang tampak tidak linier. Berpindah-pindah pekerjaan, lintas industri, bahkan ganti bidang beberapa kali. Rasanya seperti tidak punya arah yang jelas.
Namun jangan khawatir. Buku Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World karya David Epstein hadir seperti segelas kopi panas di pagi yang dingin—menenangkan dan membuka mata.
Buku ini adalah pembelaan yang kuat untuk orang-orang yang tidak menempuh jalur spesialisasi tunggal, tetapi justru memiliki beragam pengalaman lintas bidang. Jika kamu pernah merasa, “Mengapa aku belum menjadi ahli di satu hal pun?”, mungkin kamu bukan tersesat—kamu hanya sedang tumbuh sebagai seorang generalist.
Dua Jalan Menuju Keunggulan
Epstein memulai bukunya dengan dua tokoh besar: Tiger Woods dan Roger Federer.
Tiger sejak umur 2 tahun sudah memegang stik golf. Dididik secara intens oleh ayahnya. Fokus hanya pada satu bidang. Hasilnya: juara dunia dan legenda.
Federer? Masa kecilnya diisi dengan bermain basket, renang, badminton, bahkan skateboard. Bahkan ibunya sendiri mengatakan bahwa Federer adalah anak yang santai dan tidak terlalu ambisius. Namun pada akhirnya, dia juga menjadi salah satu atlet terbaik sepanjang masa di dunia tenis.
Apa pelajaran dari sini? Tidak semua kesuksesan lahir dari spesialisasi dini. Banyak orang justru berkembang melalui proses eksplorasi yang beragam.
Spesialisasi Itu Penting—Tapi Tidak Selalu Jawaban
Mungkin kamu pernah mendengar teori 10.000 jam dari Malcolm Gladwell—bahwa seseorang butuh latihan sebanyak itu untuk menjadi ahli. Teori ini berlaku di dunia dengan pola stabil seperti catur atau musik klasik.
Namun dalam dunia kerja saat ini, kamu sedang bermain di medan yang berbeda. Dunia kerja adalah wicked learning environment—lingkungan belajar yang tidak pasti, sering berubah, dan penuh ketidakjelasan. Hari ini kamu belajar strategi bisnis, besok sudah harus memahami UI/UX.
Di sinilah para generalis unggul. Mereka tidak hanya terbiasa dengan perubahan, tapi juga mampu menghubungkan banyak hal lintas bidang untuk menghasilkan solusi baru.
Kekuatan Seorang Generalist
Epstein menunjukkan bahwa banyak tokoh hebat bukan berasal dari jalur lurus, tapi dari perjalanan yang penuh belokan. Van Gogh sempat menjadi guru dan pengkhotbah sebelum melukis. Steve Jobs belajar kaligrafi tanpa tujuan karier yang jelas—dan justru itu yang membuat desain produk Apple begitu elegan.
Apa yang membuat seorang generalist menonjol? Ini beberapa kekuatannya:
- Pemikiran analogi lintas konteks. Generalis mampu menghubungkan hal-hal dari dunia yang berbeda dan menciptakan pendekatan baru. Seperti bagaimana desain pesawat terinspirasi dari sayap burung.
- Adaptasi cepat. Karena terbiasa melompat dari satu bidang ke bidang lain, generalis cenderung lebih cepat belajar dan menyesuaikan diri.
- Kemampuan menjadi jembatan antar tim. Generalis bisa bicara dengan bahasa teknis, tetapi juga bisa menjelaskan kepada tim bisnis. Mereka menjadi penghubung yang memudahkan kerja sama.
- Inovasi yang orisinal. Dengan sudut pandang yang lebih luas, generalis sering menemukan ide-ide segar yang belum terpikirkan oleh para spesialis.
Mengapa Perusahaan Masa Kini Butuh Generalist?
Di tengah disrupsi teknologi, perubahan regulasi, dan tekanan pasar, perusahaan butuh orang yang bisa berpikir fleksibel. Sayangnya, banyak perusahaan masih lebih menyukai spesialis dengan pengalaman panjang di satu bidang.
Padahal, studi menunjukkan bahwa organisasi yang membuka ruang untuk eksplorasi dan pengembangan lintas fungsi justru lebih inovatif.
IBM, misalnya, menemukan bahwa karyawan yang pernah berpindah antar divisi dan mencoba berbagai proyek memiliki performa yang lebih baik dalam jangka panjang. Mereka bukan yang paling ahli di satu hal, tapi mereka punya pemahaman menyeluruh dan mampu membuat keputusan lintas departemen.
Dunia kerja hari ini membutuhkan orang yang mampu menyambungkan titik, bukan hanya menggali lebih dalam di satu titik.
Kamu Tidak Terlambat—Kamu Sedang Melalui Masa Eksplorasi
Banyak dari kita merasa tertinggal karena belum tahu “panggilan hidup”, bahkan setelah bertahun-tahun bekerja. Tapi Range menjelaskan bahwa masa eksplorasi adalah fase yang sehat dan produktif.
Sama seperti Federer, banyak orang sukses justru berkembang setelah mencoba berbagai hal. Mereka menyusun pola dari pengalaman, lalu menemukan posisi terbaik untuk berkontribusi.
Jadi, jika saat ini kamu sedang berpindah dari marketing ke project management, lalu ke analitik—itu bukan kegagalan. Itu adalah proses pembentukan perspektif.
Lalu, apa yang bisa kamu lakukan?
- Ubah cara pandang terhadap pengalaman kariermu. Jangan malu memiliki pengalaman yang beragam. Ceritakan bahwa itu memberimu sudut pandang luas.
- Latih berpikir lintas disiplin. Baca buku dari topik yang jauh dari pekerjaanmu sekarang. Gabungkan logika bisnis dengan seni, desain dengan psikologi, teknologi dengan budaya.
- Ikut proyek lintas divisi. Ambil tantangan di luar deskripsi pekerjaanmu. Terlibat dalam proyek baru akan memperkaya cara kamu berpikir dan bekerja.
- Pilih jalur karier yang memberi ruang belajar horizontal. Karier tidak selalu tentang promosi jabatan. Kadang, memperluas wawasan jauh lebih berharga dari sekadar naik level.
Di Dunia yang Cepat Berubah, Fleksibilitas adalah Kekuatan
Dulu, menjadi “jack of all trades” dianggap kurang fokus. Tapi hari ini, menjadi generalist adalah keunggulan kompetitif.
Range mengingatkan kita bahwa tidak semua orang harus menjadi ahli sejak dini. Justru, mereka yang mengambil waktu untuk mengeksplorasi, gagal, belajar, dan menggabungkan pengalaman lintas bidang adalah mereka yang bisa menciptakan solusi paling relevan dan segar di masa depan.
Karier bukan perlombaan cepat. Bahkan bukan juga maraton. Dunia kerja hari ini lebih mirip parkour—kamu harus cekatan, fleksibel, dan siap berpindah arah tanpa jatuh.
Jadi, jika hari ini kamu masih bertanya, “Apa spesialisasiku?”, mungkin jawabannya adalah: kamu tidak punya satu, karena kamu punya range.
Dan itu bukan kekurangan. Itu kekuatanmu.
“Specialists tend to be good at solving the same problem repeatedly, but generalists are better at solving new problems.” – David Epstein
May 17, 2025 | Articles on Media
Ketika Google Maps pertama kali diluncurkan tahun 2005, kita hanya melihatnya sebagai peta digital. Tapi seiring waktu, ia menjadi lebih dari sekadar petunjuk arah. Ia mengajari kita membaca ritme kota, memprediksi kemacetan, bahkan merencanakan waktu berpindah dari satu titik ke titik lainnya.
Inovasi yang semula terlihat biasa, ternyata diam-diam mengubah cara manusia memaknai ruang dan waktu.
Kini, sejarah itu seperti berulang lewat implementasi QRIS. Ia telah hadir sejak lima tahun silam dengan wajah yang sangat sederhana: kode persegi dua dimensi di atas selembar kertas. Tidak ada layar sentuh, tidak ada tombol dan tidak ada suara. Tapi di balik kesederhanaannya, ia membawa misi besar bernama transformasi digital.
Pada mulanya QRIS dirancang untuk memudahkan transaksi. Pedagang tak perlu lagi menyiapkan beragam kode QR di meja kasir. Cukup satu kode QR untuk pembayaran semua bank dan dompet digital. Praktis, cepat, dan hemat.
Dan seiring berjalannya waktu, tidak ada yang menyangka kehadiran alat sederhana itu justru berkembang menjadi pintu pembuka bagi UMKM masuk ke dalam ekosistem digital.
Lompatan katak
Mereka mulai belajar mencatat transaksi, mengelola laporan keuangan, terkoneksi dengan aplikasi kasir digital, hingga memasarkan dagangannya di media sosial dan situs lokapasar.
Situasi ini lantas dikenal dengan istilah “lompatan katak” (leapfrog). Sebuah jargon kontemporer untuk menggambarkan kemampuan melompati tahapan pertumbuhan konvensional dengan bantuan teknologi.
Dulu, untuk bisa menjangkau pasar nasional, pelaku usaha harus membuka cabang, pasang iklan di media cetak, dan punya modal besar. Sekarang, cukup punya akun media sosial, ponsel pintar, dan QRIS.
UMKM yang tadinya hanya melayani tetangga sekitar, kini bisa melayani pembeli di luar kota, bahkan luar negeri dengan proses pembayaran yang mudah.
Tak ayal, UMKM dapat melompat langsung dari ekonomi informal ke ekosistem digital tanpa harus melewati fase menengah yang panjang. Inilah hakikat lompatan katak, yakni teknologi yang awalnya dirancang untuk efisiensi pembayaran menjadi pondasi transformasi struktural.
Pada skala makro, adopsi massal QRIS berkontribusi pada formalisasi usaha informal, perluasan basis pajak, dan percepatan inklusi keuangan.
Optimisme serupa kembali membuncah seiring peluncuran QRIS Tap pada Maret 2025. Dengan dukungan teknologi Near Field Communication (NFC), pengguna cukup menempelkan ponsel ke perangkat, dan transaksi terjadi dalam sekejap.
Meski usianya masih seumur jagung, nyatanya pengguna QRIS Tap tercatat mencapai 20,8 juta orang dengan volume transaksi mencapai 42,9 juta.
Sekilas, cara pembayaran kekinian ini terlihat hanya sebagai penyempurnaan teknis dari sistem QRIS yang sudah ada. Namun di balik itu, QRIS Tap sejatinya menyimpan potensi lebih dari sekadar memudahkan pembayaran.
Sektor transportasi publik dapat menjadi studi kasus menarik. Aspek kecepatan terbilang sangat krusial di area ini. Semakin deras laju transaksi, semakin lancar aliran penumpang.
Pengalaman banyak kota megapolitan di dunia mengajarkan bahwa kecepatan berpindah sama pentingnya dengan kecepatan internet. Ketika teknologi menyatu dengan alur hidup masyarakat urban, ia tak lagi sekadar alat bayar, tapi menjadi bagian dari infrastruktur kota modern.
Walau demikian, letak kekuatan QRIS Tap justu terletak pada sisi perolehan data. Setiap ketukan pada mesin pembaca menciptakan jejak digital sebagai indikator mobilitas harian warga.
Ia memberitahu jam berapa orang paling sering naik kendaraan umum. Ia mengungkap rute mana yang padat, mana yang sepi.
Implikasinya QRIS Tap memungkinkan sistem pengambilan kebijakan dapat bergerak dari berbasis asumsi menuju sistem berbasis bukti. Pemerintah bisa membaca pola mobilitas masyarakat secara langsung. Operator mampu menyesuaikan armada secara dinamis. Dan warga mendapat layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan nyatanya.
Enabling infrastructure
Ke depan, sangat mungkin data QRIS Tap akan terhubung dengan sistem perencanaan kota. Pemerintah bisa mengidentifikasi daerah yang kurang terlayani transportasi, mengatur tarif berdasarkan waktu, bahkan memberi subsidi yang lebih tepat sasaran.
Di titik inilah, QRIS Tap bukan cuma alat transaksi. Ia menjadi enabling infrastructure yang memampukan banyak hal lain tumbuh di atasnya.
Terminologi ini berarti infrastruktur yang tidak hanya menjalankan fungsi dasarnya, tetapi juga membuka ruang tumbuh bagi sistem lainnya.
Misalnya, jalan tol tidak hanya menghubungkan dua kota, tapi membentuk pusat ekonomi baru. Listrik bukan hanya menyalakan lampu, tapi memungkinkan munculnya industri.
QRIS Tap pun demikian. Ia membuka jalan, tak hanya bagi sistem transportasi yang lebih efisien, tapi juga bagi kota yang lebih cerdas.
Hari ini, tantangan transportasi publik bukan hanya pada soal tarif dan trayek, tetapi juga integrasi layanan. Pengguna ingin melihat posisi kendaraan umum, merencanakan rute, hingga memesan tiket transportasi secara daring.
QRIS Tap berpotensi menjadi simpul awal yang menghubungkan moda transportasi ke dalam ekosistem digital—dari pembayaran, data pengguna, hingga integrasi antarmoda.
Potensi QRIS Tap tentu tidak berhenti di halte atau stasiun. Ia bisa menjangkau lebih luas, menembus batas sektor transportasi menuju layanan publik lainnya. Bayangkan jika pembayaran retribusi parkir, tiket masuk kawasan wisata, hingga layanan administrasi di kantor pemerintah bisa dilakukan cukup dengan satu sentuhan.
Di sinilah kita melihat bagaimana QRIS Tap bisa menjadi tulang punggung kota cerdas yang tidak hanya efisien secara teknis, tapi juga inklusif secara sosial.
Pada akhirnya, Clayton Christensen, profesor di Harvard Business School mengatakan: “Inovasi yang berhasil bukan yang paling canggih, tapi yang paling banyak dipakai.” QRIS Tap memenuhi syarat ini.
Bukan karena ia dibangun dengan teknologi mutakhir, tapi karena ia menjawab kebutuhan paling dasar masyarakat: kemudahan, kecepatan, dan keterjangkauan dalam bertransaksi.
Maka dari itu, sangat tepat jika memosisikan QRIS Tap sebagai fondasi awal transformasi fasilitas publik yang lebih inklusif, efisien, dan terhubung.
Walau saat ini implementasinya masih terbatas, tapi seperti kata orang bijak: jangan meremehkan riak kecil, karena gelombang besar sering lahir dari riak kecil yang tak terlihat.
Artikel ini telah dimuat di KONTAN 17 Mei 2025
May 7, 2025 | Articles on Media
Di balik kemudahan yang ditawarkan oleh digitalisasi, tersimpan tantangan besar bernama kejahatan siber. Baru-baru ini publik dikejutkan dengan sebuah modus penipuan berupa penggunaan perangkat Base Transceiver Station (BTS) palsu.
Bareskrim Polri menyebut nominal kerugian akibat aksi ini mencapai ratusan juta rupiah Kejahatan ini menjadi ancaman serius dan memperlihatkan betapa pentingnya literasi digital.
Berbeda dengan kebanyakan kejahatan siber yang hanya berbasis perangkat lunak atau media sosial, BTS palsu tergolong kejahatan yang menggunakan perangkat keras berteknologi tinggi.
Pelaku menggunakan sistem IMSI Catcher yang mampu “menjebak” ponsel agar menganggapnya sebagai pemancar resmi dan menyisipkan pesan penipuan tanpa melewati jaringan operator.
Dengan sinyal kuat dan terarah, BTS palsu dapat menjangkau puluhan hingga ratusan ponsel di radius tertentu. Ketika korban menerima SMS seperti “Bank Anda akan memblokir akun ini, klik tautan untuk verifikasi,” mereka tidak menyadari bahwa pesan tersebut tidak pernah dikirim oleh operator atau bank yang sah.
Dampak kejahatan ini sangat nyata: masyarakat kehilangan dana, kepercayaan pada layanan digital menurun, dan reputasi lembaga finansial ikut terdampak. Penipuan ini tidak hanya menipu dompet, tetapi juga mengoyak rasa aman pengguna digital.
Modus operandi kejahatan siber sangat beragam. Setidaknya terdapat lima jenis praktik kecurangan yang paling sering terjadi.
Pertama, phishing atau upaya memperoleh informasi pribadi dengan menyamar sebagai pihak terpercaya. Modus BTS palsu memanfaatkan smishing (phising dalam versi berbasis SMS) secara langsung dengan membuat SMS seolah-olah berasal dari bank atau institusi resmi.
Kedua, malware dan ransomware. Malware (perangkat lunak berbahaya) dapat menginfeksi perangkat dan mencuri data tanpa sepengetahuan pengguna.
Di sisi lain, Ransomware, salah satu variannya, mengunci data korban dan meminta tebusan dalam bentuk uang kripto. Serangan ini banyak menyasar sektor pemerintahan dan layanan publik.
Ketiga, social engineering atau rekayasa sosial. Teknik manipulatif ini mengeksploitasi psikologis korban untuk mengungkapkan informasi penting, misalnya dengan berpura-pura menjadi customer service atau petugas bank.
Pelaku sering menggabungkan teknik ini dengan pesan yang menimbulkan kepanikan seperti “rekening Anda diblokir”.
Keempat, skimming atau pencurian data kartu debit atau kartu kredit dengan memakai alat rekam yang dipasang pada mesin ATM atau mesin gesek EDC. Seiring perkembangan teknologi, teknik ini berkembang juga ke ranah digital melalui pencurian data lewat situs tidak aman.
Kelima, penipuan investasi digital dan kripto. Meningkatnya popularitas kripto juga dimanfaatkan oleh pelaku penipuan yang menjanjikan imbal hasil tinggi tanpa risiko. Korbannya tidak hanya masyarakat awam, tetapi juga generasi muda yang aktif digital namun kurang memahami risiko.
Kejahatan-kejahatan di atas kian membingkai fakta bahwa kejahatan digital bukan hanya masalah teknis, melainkan persoalan sistemik yang menyentuh aspek pelindungan konsumen dan literasi digital publik.
Pertahanan pertama
Kejahatan siber seperti BTS palsu menunjukkan bahwa ruang digital bukanlah tempat yang netral. Ia bisa menjadi arena produktivitas atau medan berbahaya tergantung pada kesiapan kita. Masyarakat yang tidak dilindungi dan tidak dibekali dengan literasi digital akan terus menjadi korban.
Literasi digital adalah benteng pertahanan pertama terhadap kejahatan digital. Semakin tinggi literasi digital masyarakat, semakin kecil kemungkinan mereka jadi korban penipuan.
Literasi digital bukan cuma soal teknologi, tapi soal bertahan hidup di era digital. Maka dari itu, penguatan literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kewajiban.
Secara substansi literasi digital mencakup empat dimensi penting. Pertama, kecakapan informasi dengan memahami dan menilai validitas informasi digital.
Kedua, kesadaran keamanan digital, yaitu mengetahui risiko dari berbagi data pribadi, mengenali sinyal bahaya seperti tautan mencurigakan atau permintaan OTP.
Ketiga, etika digital dengan menjaga privasi, menghormati hak orang lain, dan tidak menyebar berita bohong.
Keempat, kemampuan memecahkan masalah digital. Mereka mengetahui langkah jika terkena penipuan, menghubungi pihak berwenang, dan menggunakan saluran pengaduan resmi.
Seseorang yang melek digital akan lebih berhati-hati dalam mengklik tautan yang mencurigakan, paham pentingnya autentikasi dua faktor (2FA), tidak mudah tergiur iming-iming hadiah dari nomor tidak dikenal, serta mengenali pola pesan yang mencurigakan.
Tanpa literasi digital yang memadai, masyarakat niscaya menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan digital.
Kementerian Kominfo menyebut indeks literasi Indonesia pada 2022 berada di angka 3,54 (dari skala 5). Hal ini menunjukkan bahwa masih tersisa banyak ruang bagi para pemangku kebijakan untuk meningkatkan literasi digital masyarakat.
Pelindungan Konsumen
Beragam upaya sejatinya telah dilakukan otoritas. Misalnya, Bank Indonesia telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 3 Tahun 2023 tentang Pelindungan Konsumen Bank Indonesia.
Salah satu poin utamanya ialah literasi digital bukan hanya menjadi tanggung jawab regulator, melainkan juga tanggung jawab industri sistem pembayaran.
Dalam kerangka ketentuan ini, pelaku industri diwajibkan untuk aktif memberikan edukasi kepada konsumen mengenai keamanan bertransaksi, perlindungan data pribadi, serta potensi risiko di dunia digital.
Dengan memperluas pemahaman konsumen, industri tidak hanya memenuhi kewajiban regulasi, tetapi juga membangun kepercayaan publik yang menjadi fondasi keberlanjutan ekosistem pembayaran digital.
Seiring makin banyaknya produk dan layanan pembayaran berbasis teknologi, pemahaman masyarakat tentang konsep keamanan transaksi digital menjadi sangat mendasar.
Berbagai program edukasi, kampanye publik, hingga kolaborasi dengan komunitas lokal digalakkan untuk memperkenalkan risiko siber, serta memahami hak dan kewajiban sebagai pengguna sistem pembayaran.
Langkah ini menjadi kunci dalam mewujudkan tujuan yang lebih besar, yaitu menciptakan ekosistem pembayaran yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan masyarakat yang melek digital, penggunaan layanan pembayaran digital dapat tumbuh sehat, memperluas akses keuangan, dan mempercepat transformasi ekonomi nasional.
Sinergi antara regulator dan industri ini mencerminkan komitmen bersama untuk tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga kepercayaan dan kesiapan masyarakat dalam memasuki era ekonomi digital.
Sebab pada akhirnya tidak ada teknologi yang benar-benar aman tanpa manusia yang benar-benar paham cara menggunakannya.
Oleh karena itu, sangatlah tepat jika mengibaratkan literasi digital layaknya vaksin sosial terhadap kejahatan siber.
Seperti halnya vaksin yang melatih tubuh melawan virus, literasi digital melatih nalar dan kewaspadaan kita terhadap ancaman di dunia maya.
Artikel ini telah dimuat di INVESTOR DAILY 7 Mei 2025
Apr 30, 2025 | On Self-Productivity
Di dunia yang serba cepat, instan, dan penuh distraksi, mudah bagi kita—para profesional muda dan manajer—untuk merasa seperti terus berlari tapi tak kunjung sampai. Kita sibuk setiap hari, menghadiri rapat, mengejar tenggat waktu, menjawab email tanpa akhir.
Namun, diam-diam kita bertanya dalam hati: “Apakah semua ini benar-benar membawaku lebih dekat ke impianku?”
Buku The Long Game: How to Be a Long-Term Thinker in a Short-Term World karya Dorie Clark hadir sebagai tamparan lembut sekaligus panduan konkret. Buku ini bukan hanya tentang strategi karier, tapi tentang membentuk pola pikir jangka panjang yang bisa mengubah hidup Anda selamanya.
Mengapa Banyak Profesional Terjebak?
Kita hidup di era instan. Target kuartal. Promosi cepat. Like dan views yang viral. Semua orang ingin hasil sekarang. Akibatnya, kita terjebak di dalam kesibukan tanpa strategi.
Seperti kata Clark:
“Terlalu banyak dari kita menghabiskan hidup mengikuti jejak orang lain, bukannya menyusun jejak kita sendiri.”
Kita sibuk merespons permintaan, mengejar target mingguan, dan menyenangkan semua orang. Tapi kita lupa: apakah semua itu benar-benar membawa kita ke tujuan jangka panjang kita?
1. Ciptakan Ruang Kosong
Strategi tidak lahir dari kalender yang penuh. Clark percaya bahwa kesempatan strategis hanya muncul jika kita memberi ruang untuk berpikir. Ruang ini bukan “me time” biasa. Ini adalah thinking time—waktu yang kamu sengaja sisihkan untuk mengatur ulang arah hidupmu.
Coba lihat kalendermu minggu ini. Apakah ada waktu kosong? Jika tidak, kamu mungkin sedang terlalu sibuk untuk sadar bahwa kamu sedang melenceng dari arah.
Solusinya sederhana: blokir satu jam seminggu hanya untuk berpikir. Matikan notifikasi. Ambil jurnal. Tanyakan pada dirimu sendiri:
- Apakah proyek yang sedang aku kerjakan saat ini mendukung karier impianku 5 tahun ke depan?
- Apa satu hal yang bisa aku ubah minggu ini agar lebih dekat ke tujuan jangka panjang?
Ini bukan buang-buang waktu. Ini investasi strategi.
2. Kesabaran Adalah Kekuatan Kompetitif
Dalam dunia yang mengejar viral dan instan, berpikir jangka panjang bisa terasa lambat. Tapi Clark membalik cara pandang itu: justru mereka yang berpikir jauh ke depanlah yang akan bertahan dan unggul.
Ia menyebut konsep ini sebagai strategic patience—kesabaran strategis. Artinya, kamu tetap bergerak, tapi dengan arah yang jelas. Kamu tidak panik karena belum dilihat hari ini, karena kamu tahu dampak jangka panjang sedang kamu bangun.
Contohnya? Seorang manajer muda yang rutin menulis insight di LinkedIn, mungkin diabaikan setahun pertama. Tapi di tahun ketiga, ia diundang jadi pembicara, direkrut headhunter, atau diminta memimpin divisi baru. Itu bukan keberuntungan. Itu kekuatan bermain panjang.
3. Tujuan Tetap, Jalan Fleksibel
Clark mengingatkan kita bahwa berpikir jangka panjang bukan berarti keras kepala dengan satu cara.
Kamu bisa punya mimpi besar—menjadi direktur, membangun bisnis sendiri, menjadi thought leader di bidangmu. Tapi bisa saja jalannya berliku. Mungkin kamu harus pindah tim, rotasi jabatan, atau bahkan pindah industri. It’s okay.
Yang penting, tujuanmu tetap.
Dia menyebut ini opportunistic adaptation—kemampuan untuk fleksibel tanpa kehilangan arah. Dunia kerja berubah cepat. Yang bisa bertahan adalah mereka yang tidak terlalu kaku dalam cara, tapi sangat jelas dalam visi.
4. Katakan “Tidak” Lebih Sering
Clark menulis tajam: “Being busy isn’t a badge of honor. It’s a sign that you’re out of control.”
Kita sering merasa bangga kalau kalender penuh. Tapi sadarkah kamu, semakin sibuk kamu tanpa tujuan jelas, semakin besar kemungkinan kamu hanya mengisi hidup orang lain—bukan hidupmu sendiri?
Belajar berkata “tidak” adalah keterampilan penting untuk bermain panjang.
- Tolak proyek yang tidak relevan dengan arahmu.
- Delegasikan tugas operasional jika memungkinkan.
- Jangan terjebak menjadi orang yang bisa semuanya, tapi tidak dikenal untuk apa pun.
Setiap kali kamu berkata “ya” untuk hal yang tidak penting, kamu sedang berkata “tidak” pada masa depanmu.
5. Bangun Kredibilitas Secara Bertahap
Salah satu kesalahan terbesar profesional muda adalah terlalu fokus kerja keras tanpa membangun citra dan jaringan.
Clark tidak menyuruh kita menjadi “pencitraan”. Tapi dia menunjukkan betapa pentingnya membangun otoritas personal. Bagaimana caranya?
- Tulis pemikiranmu di LinkedIn atau blog pribadi.
- Berani tampil dan bicara di rapat.
- Buat mini project yang menunjukkan kompetensimu.
Kalau kamu dikenal untuk sesuatu, maka kamu akan jadi top of mind saat peluang datang. Reputasi jangka panjang tidak dibangun dengan kehebohan. Tapi dari konsistensi dan kontribusi kecil yang terus-menerus.
Dari Target ke Tujuan: Saatnya Ubah Pola Main
Kita terbiasa mengejar target. Tapi target bisa membutakan kita dari tujuan sebenarnya.
The Long Game mengajak kita untuk mulai bermain dengan tujuan. Bukan hanya mengejar hasil, tapi juga makna.
3 langkah untuk memulai “Permainan Panjang” hari ini
1. Tuliskan karier impianmu 5 tahun ke depan. Bukan posisi semata, tapi kontribusi seperti apa yang ingin kamu tinggalkan? Nilai apa yang ingin kamu bawa?
2. Audit kalendermu. Apakah 20% waktumu minggu ini kamu habiskan untuk sesuatu yang mendekatkanmu ke visi itu? Jika belum, ubah.
3. Mulai bangun kredibilitasmu hari ini. Tidak harus besar. Tulis insight-mu di LinkedIn, mulai mentoring rekan baru, atau ambil kursus yang mendukung bidangmu.
Menang di Akhir, Bukan Hanya Menang Hari Ini
Ingat, karier bukan sprint. Ini marathon. Bahkan mungkin ultra-marathon.
Dan seperti yang dikatakan Dorie Clark:
“Jangan biarkan urgensi hari ini mencuri masa depanmu.”
Main panjang memang melelahkan. Tapi begitu kamu menang, kamu menang dengan utuh. Kamu tidak hanya naik jabatan—kamu membangun kehidupan yang sesuai dengan nilaimu, misimu, dan dampakmu.
“When you build a reputation over time, you don’t need to chase opportunity. It comes looking for you.” – Dorie Clark
Apr 24, 2025 | On Self-Productivity
Apakah kamu pernah merasa sudah bekerja keras, tetapi hasilnya belum sebanding dengan usaha yang kamu keluarkan? Kamu lembur, ikut semua rapat, ambil semua proyek, tapi kariermu seperti jalan di tempat. Jika iya, kamu tidak sendiri. Banyak profesional muda yang terjebak dalam jebakan “sibuk yang semu”.
Morten T. Hansen, profesor manajemen dari University of California, melakukan studi mendalam terhadap lebih dari 5.000 profesional lintas industri. Hasil risetnya terangkum dalam buku Great at Work: How Top Performers Work Less and Achieve More. Intinya sederhana, tapi menggugah: bekerja lebih cerdas jauh lebih penting daripada bekerja lebih keras. Dan bekerja cerdas punya polanya.
Dalam artikel ini, kita akan membedah 7 prinsip utama dari buku Great at Work yang bisa kamu terapkan langsung untuk melesatkan karir tanpa harus mengorbankan waktu dan kesehatan mental.
1. Do Less, Then Obsess
Alih-alih mengejar banyak hal sekaligus, para top performer justru memilih sedikit hal penting, lalu mengerjakannya secara obsesif. Mereka tidak multitasking membabi buta. Mereka fokus.
Mengapa ini penting? Dalam riset Hansen, mereka yang bekerja dengan fokus tinggi pada sedikit prioritas bisa meningkatkan kinerja mereka hingga 25% lebih baik dibanding yang tersebar di banyak hal. Prinsip ini menantang budaya “selalu sibuk” yang justru membuat hasil jadi rata-rata.
Misalnya, jika kamu manajer proyek, alih-alih mengejar 5 inisiatif sekaligus, fokuslah pada 1-2 proyek yang paling strategis, lalu berikan perhatian 100% — dari kualitas tim, timeline, sampai ke detail eksekusi.
Prinsip ini juga menuntut keberanian untuk berkata “tidak”. Banyak dari kita takut melewatkan peluang, padahal terlalu banyak proyek justru membuat kita gagal total. Kuncinya adalah menyusun prioritas berbasis dampak.
Untuk bisa melakukan ini, kamu perlu pemahaman mendalam atas apa yang paling penting bagi organisasi dan peranmu. Tanya: Apa hal utama yang hanya kamu yang bisa kerjakan dan berdampak besar?
Hansen menyarankan agar kita tidak hanya menyaring, tapi juga menggali dalam. Ketika sudah memilih satu prioritas, kita perlu memperdalam pengetahuan, meningkatkan standar kualitas, dan mengeliminasi gangguan agar hasilnya benar-benar unggul.
2. Redesign Your Work
Top performer tidak hanya menerima pekerjaan apa adanya. Mereka mendesain ulang pekerjaannya agar lebih efektif dan bermakna.
Bayangkan kamu seorang Sales Executive. Daripada sekadar mengejar kuantitas klien baru, kamu bisa merancang ulang pendekatanmu: fokus pada segmen dengan potensi tertinggi, buat sistem follow-up yang efisien, dan bangun relasi jangka panjang.
Dengan mendesain ulang pekerjaan, kamu menghilangkan kegiatan yang tidak bernilai dan menggantinya dengan aktivitas yang berdampak besar. Ini bukan soal bekerja lebih lama, tapi bekerja lebih cerdas.
Sering kali kita terjebak dalam rutinitas tanpa pernah mempertanyakan: apakah cara kerja kita saat ini benar-benar optimal? Top performer bertanya: “Bagaimana saya bisa menghasilkan output 2x lipat dengan cara yang berbeda?”
Ini bisa berarti mengatur ulang jadwal kerja, mengadopsi tools digital, atau bahkan mendistribusikan ulang tanggung jawab tim. Perubahan ini tidak harus besar, tapi harus tepat sasaran. Prinsipnya adalah kerja harus mendatangkan nilai. Jika tidak, ubah caranya.
3. Don’t Just Learn, Loop
Belajar tidak berhenti saat kamu selesai kuliah. Namun belajar yang efektif bukan hanya soal membaca buku atau ikut pelatihan, melainkan menciptakan learning loop — siklus belajar, praktik, refleksi, dan perbaikan.
Top performer tidak puas hanya “tahu”. Mereka menguji, gagal, mengevaluasi, lalu mencoba lagi dengan cara lebih baik. Mereka belajar sambil jalan, bukan hanya dari teori.
Contohnya, saat kamu mencoba teknik presentasi baru di depan klien. Setelah presentasi, kamu luangkan waktu untuk mengevaluasi: bagian mana yang membuat klien tertarik? Di mana audiens mulai kehilangan fokus? Apa yang bisa diperbaiki minggu depan?
Proses refleksi ini adalah kunci peningkatan berkelanjutan. Hansen menemukan bahwa orang yang rutin melakukan refleksi setelah bekerja punya peningkatan kinerja hingga 22% dibanding yang tidak.
Buat jadwal refleksi mingguan. Tanyakan ke diri sendiri: “Apa yang saya pelajari minggu ini? Apa yang akan saya ubah minggu depan?”
Dengan membangun learning loop, kamu menjadikan pekerjaan sebagai ruang eksperimen yang mempercepat kemajuanmu.
4. P-Squared (Passion and Purpose)
Banyak orang bicara soal passion. Tapi Hansen menunjukkan bahwa passion saja tidak cukup. Kamu juga butuh purpose — alasan mengapa kamu melakukan pekerjaanmu.
Passion membuat kamu bersemangat. Tapi purpose memberikan makna. Ketika keduanya bersatu, kamu punya energi jangka panjang.
Top performer dalam studi Hansen adalah mereka yang tidak hanya mencintai pekerjaannya, tapi juga merasa pekerjaan mereka punya dampak positif pada orang lain.
Misalnya, kamu seorang Product Manager. Passion-mu mungkin soal teknologi. Tapi purpose-mu adalah membantu pengguna menyelesaikan masalah hidup mereka dengan solusi digital yang sederhana.
Gabungan passion dan purpose membuat kamu tahan banting saat pekerjaan jadi berat. Kamu tidak mudah menyerah karena kamu tahu apa yang kamu lakukan penting.
Jika kamu belum menemukan keduanya, tanyakan ini: Apa bagian dari pekerjaanmu yang paling membuatmu hidup? Dan siapa yang kamu bantu dengan hasil kerjamu?
5. Forceful Champions
Ide cemerlang tidak akan berdampak jika kamu tidak bisa meyakinkan orang lain. Top performer adalah forceful champions — mereka mendorong ide penting dengan cara yang persuasif.
Hansen menunjukkan bahwa performa tinggi bukan hanya soal kerja individu, tapi juga bagaimana kamu membawa ide melintasi organisasi.
Kamu butuh strategi pengaruh. Bukan berarti manipulatif, tapi mampu membangun aliansi, bicara dalam bahasa yang dimengerti pemangku kepentingan, dan berani menyuarakan ide meski belum populer.
Contohnya, saat kamu punya ide efisiensi biaya, jangan langsung pitching ke atasan. Bangun dulu dukungan dari rekan kerja, cari data pendukung, lalu ajukan dengan kerangka dampak bisnis.
Forceful champions juga tahu kapan bersikap fleksibel dan kapan harus berdiri teguh. Mereka membaca kontek s dan menyesuaikan pendekatan. Dengan keterampilan ini, kamu bukan hanya menjadi eksekutor, tapi juga agen perubahan.
6. Fight and Unite
Kolaborasi tidak selalu mulus. Top performer tahu bahwa konflik sehat adalah bagian penting dari tim hebat. Mereka berani menyuarakan pendapat, tapi juga tahu kapan harus menyatukan suara. Hansen menyebutnya Fight and Unite: bertarung untuk ide, lalu bersatu untuk eksekusi.
Dalam tim, sering terjadi ketidaksepakatan. Yang membedakan top performer adalah cara mereka mengelola ketegangan itu menjadi diskusi produktif, bukan drama.
Mereka menciptakan ruang aman untuk debat ide, saling menghargai perbedaan, dan tetap fokus pada tujuan bersama.
Setelah diskusi selesai, mereka menyatukan barisan dan menjalankan keputusan dengan komitmen penuh, meskipun bukan ide mereka yang dipilih.
7. The Two Sins of Collaboration
Kolaborasi sering dianggap sebagai kunci keberhasilan dalam dunia kerja modern. Namun, Morten Hansen memperingatkan bahwa kolaborasi yang tidak tepat justru dapat menjadi jebakan. Ia menyebut ada dua dosa utama dalam kolaborasi: under-collaboration dan over-collaboration.
Under-collaboration terjadi saat seseorang bekerja terlalu terisolasi. Mereka enggan meminta bantuan, tidak berbagi informasi, dan jarang melibatkan pihak lain, bahkan ketika kolaborasi akan mempercepat atau memperkaya hasil kerja. Ini bisa membuat pekerjaan menjadi lambat, tidak relevan, atau kehilangan dukungan dari rekan kerja.
Di sisi lain, over-collaboration juga berbahaya. Ini terjadi ketika terlalu banyak orang dilibatkan dalam sebuah proyek, terlalu banyak rapat, terlalu sering diskusi tanpa keputusan, dan energi tim terpecah karena koordinasi yang berlebihan. Hasilnya? Pekerjaan jadi lambat, membingungkan, dan melelahkan secara emosional.
Profesional hebat tahu bahwa kolaborasi bukan soal banyaknya orang yang terlibat, melainkan soal relevansi dan nilai tambah. Mereka mampu mengidentifikasi kapan kolaborasi dibutuhkan, dengan siapa, dan dalam porsi yang tepat.
Contohnya, seorang manajer proyek yang cerdas tidak mengundang seluruh divisi untuk ikut serta dalam setiap rapat. Ia hanya melibatkan stakeholder yang relevan, menetapkan tujuan yang jelas, dan membatasi waktu rapat agar tetap produktif.
Hansen menyimpulkan bahwa kolaborasi yang efektif ditandai dengan adanya batas yang sehat: cukup terbuka untuk ide dan sinergi, namun cukup selektif agar tetap fokus dan efisien.
Saatnya Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Lama
Riset Morten Hansen mematahkan banyak mitos tentang kerja keras. Ternyata, kerja hebat bukan soal lembur, multitasking, atau hadir di semua rapat. Justru mereka yang memilih dengan cermat, menyederhanakan cara kerja, terus belajar secara reflektif, dan mampu berkolaborasi dengan tepatlah yang melesat jauh dalam kariernya.
Buku Great at Work bukan hanya panduan untuk menjadi lebih produktif, tapi juga ajakan untuk bekerja dengan makna. Dalam dunia kerja yang makin kompleks dan kompetitif, kamu tidak harus bekerja lebih lama. Kamu hanya perlu bekerja dengan lebih bijak.
Mulailah dari satu prinsip. Pilih satu dari tujuh yang paling relevan dengan tantanganmu saat ini. Terapkan selama sebulan, lalu evaluasi. Karier hebat dibangun dari perubahan kecil yang dilakukan dengan konsisten.
“Top performers work smarter and with greater focus. They obsess over the few things that matter and execute them flawlessly.” — Morten T. Hansen
Apr 19, 2025 | On Self-Productivity
Bayangkan karirmu seperti papan catur. Setiap langkah menentukan hidupmu beberapa tahun ke depan. Tapi kenyataannya, banyak dari kita menjalani karir seperti pemain catur amatir—bergerak tanpa arah, bereaksi alih-alih merencanakan.
Itulah mengapa Patrick Bet-David, seorang imigran asal Iran yang membangun kerajaan bisnisnya di Amerika Serikat, menulis buku Your Next Five Moves—sebuah panduan strategis yang membantumu berpikir seperti grandmaster catur dalam permainan karir dan kehidupan.
Kalau kamu sedang bertanya, “Langkah besar apa yang harus aku ambil setelah ini?” maka buku ini akan menjawabnya dengan gamblang dan menggugah. Bukan dengan motivasi kosong, tapi dengan strategi konkret dan cerita nyata.
Move #1: Ketahui Siapa Dirimu
Langkah pertama dalam permainan ini bukan soal CV atau posisi, tapi soal identitas. Siapa kamu sebenarnya? Apa yang paling kamu inginkan? Apa nilai yang kamu pegang?
Banyak profesional gagal bukan karena kurang pintar, tapi karena mereka menjalani hidup berdasarkan ekspektasi orang lain. Mereka menjadi versi “ideal” yang diharapkan oleh orang tua, pasangan, atau masyarakat, tanpa pernah benar-benar mengenali diri sendiri.
Kita perlu menjawab pertanyaan:
- Apakah kamu ingin menjadi eksekutif hebat atau pengusaha sukses?
- Apakah kamu lebih nyaman sebagai visioner atau pelaksana?
- Apakah kamu sedang mengejar kekayaan, pengaruh, atau makna?
Ada 4 tipe motivasi: advancement (naik jabatan), individuality (menjadi diri sendiri), madness (dorongan kuat untuk menang), dan purpose (tujuan hidup). Mengetahui ini akan membantumu memilih jalan yang paling pas untuk karirmu.
Move #2: Pahami Lawan atau Pesaing
Dalam dunia profesional, kamu bukan hanya menghadapi tantangan dari dalam dirimu, tapi juga dari luar—yaitu kompetitor. Ini bukan berarti kamu harus jadi orang licik atau penuh intrik, tapi kamu harus paham permainan.
Kamu perlu memahami bukan hanya siapa pesaingmu, tapi juga cara mereka berpikir, bekerja, dan mengomunikasikan pencapaian mereka. Observasi ini akan membantumu mengidentifikasi celah untuk unggul.
Pertanyaan penting:
- Siapa yang mengincar posisi yang sama denganmu?
- Apa kekuatan dan kelemahan mereka?
- Apa yang membuat kamu lebih unggul dan bagaimana kamu bisa menunjukkannya?
- Bagaimana kamu bisa berkontribusi lebih strategis agar diposisikan sebagai pemain kunci?
Dalam lingkungan kerja, ini bisa berarti kamu perlu memahami dinamika politik kantor, reputasi rekan kerja, dan arah kebijakan atasan. Ketika kamu tahu “siapa bermain di posisi mana,” kamu bisa menempatkan dirimu dengan lebih taktis.
Dengan memahami kompetisi, kamu bisa menyusun strategi yang tidak asal gerak. Kamu jadi bukan sekadar pemain, tapi pemikir permainan.
Move #3: Bangun Tim Hebat
Tidak ada grandmaster catur yang bermain sendiri. Dalam karir, kamu juga perlu tim yang tepat—mentor, kolega, bahkan staf yang mendukung pertumbuhanmu.
Patrick menekankan bahwa kesuksesan jangka panjang tak bisa dibangun di atas ego. Kamu harus belajar:
- Merekrut orang yang lebih pintar dari kamu
- Mendelegasikan pekerjaan yang bukan kekuatanmu
- Membangun kultur kepercayaan dan kejujuran
Bagi kamu yang masih di awal karir, ini berarti cari mentor yang tepat, temui role model, dan berhentilah merasa harus “sendiri”. Bangun lingkungan kerja dan relasi yang mempercepat pertumbuhanmu. Jika kamu terus dikelilingi orang yang salah, kamu akan kehabisan energi sebelum sampai tujuan.
Move #4: Kuasai Seni Persuasi
Kamu boleh punya visi hebat, tim solid, dan strategi jitu—tapi tanpa kemampuan menyampaikan dan meyakinkan, semuanya sia-sia.
Persuasi bukan hanya untuk sales. Dalam dunia kerja, kamu harus bisa:
- Meyakinkan atasan akan idemu
- Mempengaruhi rekan kerja untuk mendukung langkahmu
- Menginspirasi orang lain untuk percaya pada dirimu
Belajarlah framing, story building, dan cara membaca bahasa tubuh. Orang yang bisa negosiasi bukan hanya menang satu pertempuran—tapi memenangkan medan perang.
Move #5: Rencanakan Eksekusi
Ini bagian yang sering dilewatkan: eksekusi dengan disiplin. Banyak orang berhenti di ide besar, atau di niat kuat. Tapi tidak lanjut ke rencana aksi yang terukur.
Pertanyaan kunci:
- Apa 5 langkah kecil yang bisa aku lakukan minggu ini?
- Hambatan apa yang mungkin muncul dan bagaimana mengantisipasinya?
- Apa ukuran keberhasilan langkahku?
Jangan takut untuk mulai dari langkah kecil, asal terarah. Disiplin kecil setiap hari akan mengalahkan motivasi besar sesekali.
Jadilah Grandmaster dalam Karirmu Sendiri
Di akhir buku, Patrick mengajak kita untuk berhenti jadi pemain yang reaktif. Dunia ini penuh dengan orang yang sibuk, tapi tak strategis. Mereka “main aman”, padahal justru butuh keberanian untuk berpikir jangka panjang.
Setiap orang ingin sukses. Tapi hanya sedikit yang benar-benar merancang kesuksesannya dengan sadar. Sisanya hanyalah pemain catur yang berharap menang hanya karena lawan membuat kesalahan.
Buku Your Next Five Moves bukan hanya tentang strategi karir. Ini adalah ajakan untuk hidup dengan sengaja—berpikir jauh ke depan, menyusun langkah secara sadar, dan mengambil kendali atas arah hidupmu.
Jika kamu:
- Masih meraba arah karirmu…
- Merasa stuck dalam rutinitas…
- Atau sedang mempertimbangkan keputusan besar…
…maka buku ini seperti kompas di tengah kabut. Ia tidak memberimu jalan pintas, tapi membekalimu dengan cara berpikir yang akan membuatmu tak tergoyahkan.
Karir hebat tidak dibangun dari keberuntungan. Tapi dari keputusan yang jernih, tujuan yang jelas, dan keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Hari ini, kamu punya pilihan. Tanyakan pada dirimu:
- Apa 5 langkah terpenting dalam hidup dan karirku saat ini?
- Sudahkah aku menyiapkan langkah ke-2, ke-3, bahkan ke-5?
- Ataukah aku masih sibuk menyelesaikan “langkah pertama” yang tak kunjung selesai?
Mulailah dari mengenali dirimu, pahami pesaingmu, bentuk timmu, kuasai seni persuasi, dan eksekusi rencanamu dengan disiplin. Karena ketika kamu menggabungkan kelima langkah itu, kamu bukan sekadar bermain dalam permainan karir—kamu menguasainya.
Ingat, dunia tidak menunggu mereka yang ragu. Dunia memberi jalan bagi mereka yang tahu ke mana mereka pergi.
Jadilah orang itu. Mulailah hari ini. Buat langkah berikutnya berarti.
“If you want to play at the highest level, start thinking like a grandmaster—not a pawn.” – Patrick Bet-David
Apr 17, 2025 | On Self-Productivity
Dalam dunia kerja yang makin kompetitif dan cepat berubah, banyak profesional muda terjebak dalam pola yang sama: datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan sesuai arahan, lalu pulang dengan perasaan “cukup.” Tidak buruk, tapi juga tidak luar biasa. Mereka menjadi roda gigi dalam mesin besar perusahaan. Efisien, bisa diandalkan, tapi mudah tergantikan.
Namun Seth Godin, penulis sekaligus pemikir di bidang pemasaran dan kepemimpinan, menawarkan sudut pandang berbeda dalam bukunya Linchpin: Are You Indispensable?. Menurutnya, dunia tak butuh lebih banyak orang yang sekadar taat prosedur. Dunia butuh lebih banyak “Linchpin“—orang-orang yang tak tergantikan, yang membuat perbedaan nyata, dan yang mampu menyumbangkan nilai unik dalam setiap hal yang mereka kerjakan.
Apa Itu Linchpin?
Secara harfiah,Linchpin adalah sebuah pasak kecil di roda yang tampaknya sepele, tapi tanpanya roda bisa copot. Dalam konteks dunia kerja, Linchpin adalah mereka yang menjadi penghubung vital dalam sistem. Mereka tidak selalu punya jabatan tinggi, tapi perannya krusial. Mereka menyatukan tim, menyelesaikan masalah yang tidak ada dalam deskripsi pekerjaan, dan terus menciptakan makna di tengah rutinitas.
Di masa lalu, perusahaan memang mencari pekerja yang patuh dan bisa direplikasi. Tapi hari ini, yang bertahan dan bersinar adalah mereka yang membawa empati, kreativitas, dan inisiatif ke dalam pekerjaannya. Inilah kunci untuk menjadi tak tergantikan.
Dunia Sudah Berubah, Tapi Cara Kita Bekerja Belum
Godin menyampaikan bahwa sistem pendidikan dan dunia kerja modern masih dibangun untuk mencetak pekerja standar. Kita dilatih untuk mengikuti perintah, bukan membuat keputusan. Kita didorong untuk mencari aman, bukan memberi makna. Itulah mengapa banyak orang merasa stagnan dalam karier—karena mereka menjalani jalur aman yang tak pernah menantang potensi terbaik mereka.
Padahal, saat ini perusahaan justru mencari orang yang bisa:
- Menyelesaikan masalah tanpa menunggu perintah,
- Melihat peluang yang tidak terlihat,
- Memimpin bahkan tanpa jabatan.
Semua ini hanya bisa dilakukan jika kita memutuskan untuk menjadi Linchpin.
Musuh Terbesar Seorang Linchpin: Lizard Brain
Salah satu konsep paling terkenal dari Linchpin adalah “Lizard Brain”—istilah yang digunakan Godin untuk menggambarkan bagian otak purba kita yang bekerja berdasarkan rasa takut dan naluri bertahan hidup.
Lizard brain akan terus membisikkan hal-hal seperti:
- “Jangan berbeda, nanti kamu disalahkan.”
- “Ide kamu belum cukup bagus, simpan dulu.”
- “Kalau gagal, karier kamu bisa hancur.”
Lizard brain membuat kita:
- Menunda
- Menyerah pada keraguan
- Memilih zona aman
Dan inilah tantangan utama dalam menjadi Linchpin: melampaui ketakutan.
Ciri-Ciri Seorang Linchpin
1. Mereka Memberi Hadiah Lewat Karya
Bekerja bukan sekadar memenuhi kewajiban. Linchpin melihat hasil kerjanya sebagai “gift”—hadiah bernilai yang diberikan kepada rekan, klien, atau organisasi. Mereka menciptakan nilai emosional, bukan hanya fungsional.
2. Mereka Melampaui Deskripsi Kerja
Seorang Linchpin tidak hanya menyelesaikan to-do list. Mereka menciptakan hal yang bahkan tidak masuk ke dalam daftar. Mereka memperhatikan detail, mengisi celah yang tidak terlihat, dan menghubungkan orang-orang yang perlu terhubung.
3. Mereka Berani Berbeda
Ketaatan tanpa pemikiran kritis adalah musuh inovasi. Linchpin justru menciptakan ruang di mana kebaruan bisa tumbuh—dengan risiko ditolak, dikritik, bahkan gagal.
4. Mereka Menggerakkan Orang Lain
Linchpin tidak memerintah. Mereka memengaruhi. Mereka tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tapi juga membuat orang lain lebih baik dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Tak Lagi Menunggu Pengakuan
Linchpin tidak menunggu penghargaan, promosi, atau validasi eksternal untuk mulai berkontribusi lebih. Mereka memilih untuk membawa kelebihan mereka ke meja kerja setiap hari. Mereka menyadari bahwa nilai bukan ditentukan oleh gelar atau struktur organisasi, tapi oleh kontribusi nyata.
Inilah pembeda utama:
Orang biasa mengerjakan tugas. Linchpin menciptakan perubahan.
Sebagai eksekutif muda, kamu berada di fase karier yang menentukan. Ini adalah masa ketika kamu bisa memilih antara dua jalur:
- Jalur aman, dengan rutinitas yang nyaman tapi lambat berkembang, atau
- Jalur penuh tantangan, dengan peluang belajar, mencipta, dan memimpin tanpa harus menunggu “izin.”
Menjadi Linchpin bukan berarti kamu harus langsung jadi pemimpin besar. Tapi kamu bisa mulai dengan memperlakukan setiap tugas kecil sebagai panggung untuk menunjukkan kualitas dirimu. Cara kamu menanggapi email, cara kamu menangani rapat, hingga cara kamu membantu rekan kerja—itulah tempatmu mulai membangun reputasi sebagai orang yang berbeda dan dibutuhkan.
3 Langkah Menjadi Linchpin
Untuk kamu yang ingin langsung praktik, berikut tiga langkah sederhana yang bisa kamu mulai:
1. Lihat Pekerjaanmu Sebagai Karya Seni
Tanyakan pada dirimu sendiri:
“Bagaimana aku bisa membuat pekerjaan ini lebih manusiawi, lebih bermakna, dan lebih berdampak?”
Ubah presentasi biasa jadi pengalaman. Ubah laporan jadi cerita. Ubah koordinasi jadi kolaborasi.
2. Kirim Sebelum Sempurna
Jangan tunggu validasi atau perasaan siap. Kirim ide. Lontarkan gagasan. Ambil langkah. Godin menekankan pentingnya shipping—mengirimkan hasil kerja, bukan menyimpannya terlalu lama karena perfeksionisme.
3. Bangun Reputasi, Bukan Jabatan
Fokuslah membangun reputasi sebagai orang yang bisa diandalkan, berinisiatif, dan membawa energi positif ke dalam tim. Jadilah orang yang dirindukan saat tak ada, bukan hanya dilihat saat sedang kerja.
Dunia Butuh Orang Sepertimu
Godin tidak mengajarkan cara menjadi karyawan teladan. Ia mengajarkan cara menjadi pribadi yang punya agency, integritas, dan kekuatan untuk menciptakan dampak. Di dunia yang makin mudah berganti, mereka yang tidak tergantikan akan menjadi jangkar dari segala perubahan.
Jadi pertanyaannya:
Apakah kamu ingin menjadi Linchpin—atau hanya salah satu dari ribuan nama di database SDM perusahaan?
Pilihan selalu ada di tanganmu.
Dan perubahan itu dimulai bukan dari jabatan baru, tapi dari keberanian baru.
“You are not your resume, you are your work.” – Seth Godin
Apr 17, 2025 | Articles on Media
Kota Cerdas tidak hanya tentang gedung pencakar langit dan internet cepat. Konsep ini merujuk pada ekosistem yang saling terhubung, efisien, dan berorientasi pada pelayanan publik berkualitas.
Salah satu elemen penting di dalamnya adalah sistem pembayaran yang terintegrasi. Dalam konteks ini, QRIS TAP berpotensi menjadi katalis percepatan digitalisasi layanan kota.
QRIS TAP bukan sekadar varian baru dari fitur QRIS. Inovasi ini niscaya akan mengubah cara warga kota berinteraksi dengan layanan publik.
Didukung teknologi NFC (Near Field Communication), pengguna cukup mendekatkan ponsel ke mesin pembaca untuk menyelesaikan transaksi dalam hitungan detik. Keunggulan ini penting seiring gaya hidup kaum urban yang menuntut kecepatan layanan dan minim interaksi fisik.
QRIS TAP tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga sangat strategis. Sistem interoperabilitas yang dibangun memungkinkan QRIS TAP mudah diadopsi oleh berbagai penyedia layanan tanpa harus membangun infrastruktur dari nol.
Konfigurasi ini membuka peluang integrasi lintas sektor, seperti transportasi, parkir, fasilitas publik, perbelanjaan, hingga layanan administrasi pemerintah daerah.
Sektor transportasi publik menjadi kandidat utama first mover implementasi QRIS TAP dalam ekosistem Kota Cerdas. Terdapat dua pertimbangan utama, yaitu volume transaksi dan kecepatan akses.
Dalam sistem transportasi massal seperti bus dan kereta, aspek waktu tunggu terbilang sangat krusial. QRIS TAP hadir untuk menjawab tantangan ini dengan pemrosesan transaksi secara instan.
Secara historis, lebih dari satu dekade lalu membayar ongkos transportasi publik dengan uang tunai adalah satu-satunya pilihan. Di halte bus, penumpang harus menyiapkan uang pas, sementara kasir sibuk mencari uang kembalian.
Tak jarang, keterlambatan terjadi hanya karena proses ini. Fenomena serupa juga lazim dijumpai di stasiun kereta.
Lalu, kartu e-money (uang elektronik) hadir sebagai solusi. Dengan sistem ini, penumpang cukup menempelkan kartu ke mesin pembaca dan saldo otomatis terpotong sesuai tarif.
Proses ini memang lebih cepat dibandingkan uang tunai. Walau demikian, tidak sedikit pengguna baru menyadari saldo kartu tidak mencukupi saat sudah di depan gerbang masuk.
Menjawab tantangan tersebut, Bank Indonesia meluncurkan QRIS TAP. Sepintas cara kerja kartu e-money mirip dengan QRIS TAP. Namun, perbedaannya terletak pada inklusivitasnya.
Kartu e-money terkadang terbatas pada ekosistem tertutup dari penyedia layanan. Sebaliknya, QRIS TAP membuka akses lebih luas karena dapat digunakan pada berbagai aplikasi perbankan dan dompet digital.
Evolusi pembayaran di transportasi publik bukan semata-mata soal teknologi. Ini adalah tentang lompatan berkelanjutan demi meningkatkan efisiensi dan kenyamanan bagi pengguna.
Dengan kehadiran QRIS TAP, kita sedang menuju era di mana kemudahan perjalanan hadir dalam satu sentuhan.
Diadopsi luas
Sejak diperkenalkan pada 2019, QRIS terus menunjukkan tren kinerja yang mengesankan. Volume transaksi QRIS tetap tumbuh tinggi sebesar 163,32% pada Februari 2025 didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Setali tiga uang, kartu e-money yangnotabene acap digunakan pada angkutan umum tercatat berjumlah 115 juta kartu pada Januari 2025.
Berkaca dari statistik tersebut, kita patut optimis QRIS TAP pada transportasi publik akan mudah diterima dan diadopsi secara luas. Apalagi peluang dan segmen pasarnya sangat besar.
Misalnya, jumlah penumpang MRT Jakarta sepanjang 2024 sebanyak 40,82 juta orang. Artinya, terdapat lebih dari 110 ribu orang yang menggunakan layanan ini setiap harinya.
Senada dengan data tersebut, Transjakarta mencatat ada 371,4 juta pelanggan pada 2024, dengan rata-rata lebih dari 1 juta pelanggan per hari.
Demikian pula, PT Kereta Commuter Indonesia menyebut volume pengguna commuter line (KRL) pada tahun lalu mencapai 374 juta orang.
Tesis di atas dapat dijelaskan secara ilmiah. Dalam teori difusi inovasi, Everett Rogers (1964) menyebut adopsi teknologi dipengaruhi oleh kemudahan penggunaan dan nilai tambahnya.
QRIS TAP memenuhi dua faktor itu. Implikasinya, QRIS TAP sangat potensial diadopsi cepat oleh masyarakat luas, terutama segmen pengguna awal dan mayoritas awal.
Menariknya, penerapan QRIS TAP di sektor transportasi publik juga sejalan dengan visi pemerintah. Asta Cita ketujuh mengamanatkan pemerintahan yang berbasis digitalisasi untuk menciptakan pemerintahan yang transparan, inklusif, dan efisien.
Implementasi QRIS TAP sesungguhnya lebih dari sekadar soal efisiensi transaksi. Ia menjadi titik temu antara kebutuhan praktis warga kota dan strategi besar digitalisasi layanan publik.
Ketika pengguna angkutan umum mengakses layanan hanya dengan menempelkan ponsel, maka masyarakat sebenarnya sedang masuk ke dalam ekosistem transaksi berbasis identitas digital.
QRIS TAP membuka jalan bagi pemerintah daerah mengumpulkan data real-time yang akurat tentang perilaku ekonomi warganya.
Data ini bisa digunakan untuk menyusun kebijakan berbasis bukti yang lebih presisi. Misalnya, data transaski untuk analisis mobilitas perkotaan, perencanaan infrastruktur, serta pengembangan kebijakan transportasi yang lebih efektif.
Potensi QRIS TAP tentu tidak hanya terbatas pada sektor transportasi publik saja. Lebih dari itu, terobosan ini sejatinya menjadi langkah strategis dalam memperluas akseptasi pembayaran digital di sektor lain.
Pengalaman negara lain menunjukkan transportasi publik sering kali menjadi sektor pertama yang mengadopsi inovasi pembayaran digital sebelum meluas ke berbagai industri.
Berbagai layanan publik, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan hingga pembayaran retribusi pasar juga berpotensi besar dalam mengadopsi QRIS TAP.
Gol pamungkasnya ialah pedagang pasar tradisional dapat membayar retribusi hanya dengan menempelkan ponselnya ke mesin pembaca tanpa perlu repot menyiapkan uang kecil.
Efisiensi ini bukan hanya mempercepat proses, tetapi juga meningkatkan transparansi pendapatan daerah.
Dari perspektif makro, transformasi menuju Kota Cerdas bukan sekadar soal adopsi teknologi tinggi. Ini adalah tentang menjadikan teknologi sebagai alat untuk membangun kota yang lebih humanis.
Ketika pembayaran makin mudah, aktivitas ekonomi pun meningkat. Warga lebih nyaman, pedagang lebih untung, dan kota makin cerdas.
Pada akhirnya, saat ini kita hidup di era di mana kecepatan dan kenyamanan menjadi mata uang baru dalam interaksi ekonomi.
Oleh karena itu, eksistensi QRIS TAP harus dimaknai sebagai langkah kolektif untuk memperkuat fondasi sistem Kota Cerdas secara menyeluruh.
Artikel ini telah dimuat di KONTAN 17 April 2025
Apr 15, 2025 | On Self-Productivity
Selamat datang di kursi kepemimpinan yang baru! Sebuah babak penting dalam perjalanan karier telah dimulai. Rasanya seperti berdiri di tengah panggung besar dengan lampu sorot langsung ke wajah. Semua mata memandang, semua telinga mendengar.
Tapi di balik rasa bangga itu, ada juga suara kecil yang berbisik: “Kamu tahu harus mulai dari mana?”
Michael D. Watkins, seorang profesor dari Harvard, menyadari bahwa transisi ke peran baru—baik promosi internal maupun pindah ke organisasi baru—adalah masa paling krusial dalam karier seorang pemimpin. Ia menyebut 90 hari pertama sebagai “jendela emas“.
Lewat bukunya, The First 90 Days, Watkins menyusun semacam peta jalan untuk membantu para pemimpin baru menavigasi masa-masa kritis ini. Bukan teori kosong, tapi panduan penuh kesadaran, strategi, dan langkah konkret yang bisa langsung dipraktikkan.
Fase Persiapan: Melakukan “Self-Promotion” yang Strategis
Proses transisi kepemimpinan yang sukses dimulai jauh sebelum hari pertama kamu di kantor baru. Watkins memperkenalkan konsep “Promoting Yourself“, yang seringkali disalahartikan sebagai tindakan narsisistik.
Sebaliknya, ini adalah proses proaktif untuk mempersiapkan diri secara mental dan informasional. Ini melibatkan pemahaman mendalam tentang tuntutan peran baru, ekspektasi dari para pemangku kepentingan, dan mengelola transisi psikologis kamu sendiri.
Lakukan uji tuntas terhadap organisasi, pahami tantangan strategis yang dihadapi, dan identifikasi pemangku kepentingan kunci yang akan menjadi sekutu atau penentang potensial. Semakin komprehensif persiapanmu, semakin mulus kamu akan memasuki asimilasi ke dalam lingkungan baru.
Mempercepat Kurva Pembelajaran
Begitu kamu menginjakkan kaki di kantor baru, prioritas utamamu adalah “Accelerating Your Learning“. Jangan berasumsi bahwa pengalaman masa lalu akan secara otomatis relevan dalam konteks yang baru.
Bersikaplah seperti seorang pembelajar yang haus informasi. Aktif mendengarkan, mengajukan pertanyaan yang relevan, dan berusaha memahami model bisnis, budaya organisasi dan lanskap politik yang berlaku.
Identifikasi jaringan informal dan knowledge brokers—orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang “bagaimana sesuatu benar-benar bekerja” di lapangan. Investasikan waktu untuk membangun hubungan baik dengan mereka.
Menciptakan Dampak Awal
Untuk membangun kredibilitas dan momentum, kamu perlu menunjukkan bahwa kamu tidak hanya belajar, tetapi juga mampu menghasilkan hasil.
Strategi “Creating Early Wins” menekankan pentingnya mengidentifikasi dan mengeksekusi proyek-proyek yang terlihat, bermakna, dan dapat dicapai dalam jangka waktu singkat.
Kemenangan-kemenangan awal ini akan membangun kepercayaan diri tim dan para pemangku kepentingan terhadap kepemimpinanmu, serta menciptakan momentum positif untuk inisiatif yang lebih besar di masa depan.
Membangun Aliansi Strategis
Kesuksesan kepemimpinan jarang dicapai sendirian. Watkins menekankan pentingnya “Building a Coalition“ dengan para pemain kunci di organisasi.
Ini melibatkan pemahaman tentang dinamika kekuasaan, mengidentifikasi sekutu, lawan dan mereka yang belum mengambil posisi. Bangun hubungan yang tulus, pahami kepentingan mendasar mereka, dan cari cara untuk menyelaraskan tujuanmu dengan tujuan mereka.
Koalisi yang kuat akan memberikan dukungan yang krusial dalam menghadapi tantangan dan mendorong perubahan.
Waspadai Sindrom “Terjun Langsung”
Kebanyakan manajer baru merasa perlu menunjukkan hasil secepat mungkin. Mereka datang, mendengarkan sepintas, lalu mulai membuat perubahan. Watkins menyebut ini sebagai “the action imperative“—dorongan untuk bertindak cepat.
Padahal, tanpa memahami konteks organisasi, kamu hanya akan jadi pembuat kebijakan yang salah arah. Jangan buru-buru. Luangkan waktu untuk diagnosa dulu: seperti apa budaya kerja di sini? Apa tantangan utamanya? Siapa influencer informal yang sebenarnya menentukan arah tim?
Navigasi Situasional: Memahami Konteks STARS
Watkins menyadari bahwa setiap transisi kepemimpinan terjadi dalam konteks yang unik. Kerangka kerja STARS (Start-up, Turnaround, Accelerated Growth, Realignment, Sustaining Success) membantu kamu mendiagnosis situasi yang kamu hadapi dan menyesuaikan strategi secara tepat.
- Dalam situasi Start-up, fokusnya adalah membangun sesuatu dari nol, membutuhkan keterampilan kewirausahaan dan toleransi risiko.
- Dalam situasi Turnaround, prioritasnya adalah membalikkan kinerja yang buruk, membutuhkan tindakan tegas dan kemampuan untuk membuat pilihan sulit.
- Dalam situasi Accelerated Growth, tantangannya adalah mengelola ekspansi yang cepat, membutuhkan skalabilitas dan keterampilan delegasi.
- Dalam situasi Realignment, fokusnya adalah mengubah arah organisasi yang mapan, membutuhkan keahlian manajemen perubahan dan keterampilan komunikasi.
- Dalam situasi Sustaining Success, prioritasnya adalah mempertahankan kinerja tinggi dan mencegah kepuasan diri membutuhkan inovasi berkelanjutan dan pengembangan bakat.
Dengan memahami konteks STARS yang relevan, kamu dapat menerapkan strategi yang paling efektif untuk mencapai tujuanmu.
Menerapkan 90 Hari Pertama
Membaca The First 90 Days hanyalah langkah awal. Kunci sebenarnya terletak pada kemampuan kamu untuk menginternalisasi prinsip-prinsipnya dan menerapkannya dalam tindakan nyata. Berikut adalah tiga langkah praktis yang dapat kamu ambil segera:
- Lakukan “Stakeholder Mapping” yang Komprehensif: Identifikasi semua individu dan kelompok yang memiliki kepentingan dalam kesuksesanmu. Peta ini harus mencakup tingkat pengaruh dan kepentingan mereka. Gunakan informasi ini untuk memprioritaskan upaya membangun koalisimu.
- Tetapkan “90-Day Action Plan” yang Terukur: Berdasarkan pemahamanmu tentang situasi dan tujuanmu, buat rencana tindakan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan terikat waktu (SMART) untuk 90 hari pertamamu. Rencana ini harus mencakup inisiatif pembelajaran, upaya membangun hubungan, dan proyek-proyek “early wins“.
- Cari “Feedback” Secara Aktif dan Bersikap Reflektif: Jangan menunggu hingga evaluasi formal untuk mendapatkan umpan balik. Secara proaktif cari masukan dari atasan, rekan kerja, dan anggota timmu. Luangkan waktu setiap minggu untuk merefleksikan pengalamanmu, mengidentifikasi apa yang berjalan dengan baik dan area mana yang perlu ditingkatkan. Continuous learning adalah kunci untuk sukses jangka panjang.
Menguasai 90 hari pertama adalah investasi strategis dalam kesuksesan kepemimpinanmu. Dengan memahami prinsip-prinsip dalam The First 90 Days dan menerapkannya secara proaktif, kamu dapat mempercepat transisi, membangun kredibilitas yang kuat, dan meletakkan dasar bagi kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan.
Jangan biarkan periode krusial ini berlalu tanpa arah. Jadikan buku ini sebagai panduanmu dan mulailah membangun warisan kepemimpinanmu sejak hari pertama.
“You have only ninety days to get up to speed and make an impact.” – Michael D. Watkins